Harapan Derby County menyambut lembaran baru harus pupus bahkan sebelum kompetisi bergulir. Kegagalan takeover Derby County oleh Turki Alalshikh terjadi hanya sekitar satu jam sebelum kesepakatan dijadwalkan rampung pada Agustus lalu, tepat di ambang kick-off musim baru. Alih-alih menyongsong era kepemilikan baru, The Rams kini harus berjibaku merapikan serpihan rencana yang sudah disusun sepanjang musim panas.
Batalnya akuisisi tersebut bukan sekadar persoalan kursi direksi atau perubahan pemilik. Dampaknya merembet ke perencanaan transfer, target promosi, hingga suasana di ruang ganti Pride Park. Sejauh ini Derby baru mengumpulkan lima poin dari delapan pertandingan dan masih tertahan di zona degradasi Championship, meski gol Mo Fuseini di menit akhir sempat menyelamatkan satu poin di markas Burnley dan menahan mereka dari posisi juru kunci saat jeda internasional.

Batalnya Takeover Turki Alalshikh di Ambang Garis Finis
Kesepakatan yang telah dinegosiasikan selama berbulan-bulan itu buyar secara mendadak. Turki Alalshikh menarik diri hanya berselang sekitar satu jam sebelum proses akuisisi dinyatakan tuntas pada Agustus. Keputusan tersebut membuat manajemen Derby benar-benar lengah, karena seluruh persiapan musim telah disusun dengan asumsi akan ada pemilik baru yang menopang ambisi klub.
Meski demikian, pemilik klub David Clowes tetap berkomitmen membiayai operasional The Rams. Direktur eksekutif Derby, Stephen Pearce, bahkan menegaskan bahwa gejolak sepanjang musim panas tidak sampai mengganggu proses rekrutmen pemain. “Dari sisi transfer, kami tidak kehilangan satu pun hal yang ingin kami lakukan,” ujarnya kepada BBC Radio Derby.
Namun, pernyataan itu tampaknya tidak sepenuhnya menggambarkan situasi sebenarnya. Pelatih kepala John Eustace mengakui bahwa pihaknya harus meninjau ulang daftar target setelah kepemilikan baru urung terwujud. “Kami punya target dan nama-nama yang ingin kami datangkan. Ketika takeover akhirnya tidak terjadi, kami kehilangan banyak momentum terhadap pemain-pemain yang sedang kami incar,” katanya kepada Derby Telegraph bulan ini. Pengakuan itu menegaskan bahwa guncangan di level manajemen langsung terasa di lapangan.
Kenapa Musim Ini Diharapkan Jadi Musim Promosi
Eustace bergabung pada Februari 2025, saat Derby berada di posisi keempat dari bawah Championship. Keputusannya meninggalkan Blackburn Rovers, yang kala itu menempati peringkat kelima, untuk menangani tim yang berjuang menghindari degradasi sempat memunculkan tanda tanya besar. Situasi internal dan sejumlah pembatasan di Ewood Park memang menjadi salah satu pertimbangan, tetapi alasan utamanya adalah rencana jangka panjang yang dijual manajemen Derby kepadanya.
Rencana itu disusun bertahap: bertahan di Championship terlebih dahulu, lalu memantapkan diri, dan pada akhirnya menantang tiket kembali ke kompetisi kasta tertinggi. Musim ini seharusnya menjadi tahap ketika The Rams mulai menyerang posisi promosi. Karena itulah harapan yang dibangun sejak awal begitu besar, baik di kalangan suporter maupun di dalam klub sendiri.
Namun, seluruh skenario tersebut terganggu ketika Alalshikh membatalkan rencana akuisisi. Klub yang sebelumnya percaya diri menyusun strategi jangka panjang harus segera beradaptasi dengan kenyataan baru dalam hitungan hari. Kondisi inilah yang membuat musim Derby terasa berjalan mundur, bukan maju.
Target Transfer yang Lepas dan Biaya yang Membengkak
Dampak paling nyata terlihat di bursa transfer. Eustace menginginkan Liam Millar, tetapi Birmingham City justru lebih dulu mendatangkan penyerang milik Hull City itu dengan status pinjaman untuk satu musim. Derby akhirnya bergerak cepat mendatangkan Mo Fuseini dari Union Saint-Gilloise pada hari terakhir bursa, sosok yang sebenarnya sudah hampir bergabung dengan Birmingham sebelum klub itu mengamankan Millar.
Situasi serupa terjadi pada Ben Brereton-Diaz, yang mencetak delapan gol dalam 41 penampilan bersama Derby dengan status pinjaman musim lalu. Kondisi keuangan dan ketidakpastian kepemilikan membuat The Rams tidak bisa bergerak cukup cepat, dan ketika akhirnya mencoba, penyerang Southampton tersebut sudah berkomitmen pindah ke Sheffield United. Nama lain dalam daftar, winger Birmingham Patrick Roberts, juga gagal didekati karena kendala pada besaran gajinya yang dinilai terlalu berat bagi struktur klub.
Masalah bertambah karena tidak satu pun pemain pinjaman musim lalu memiliki opsi pembelian permanen. Artinya, Derby harus menegosiasi ulang untuk setiap pemain yang ingin dipertahankan, sehingga posisi klub terbuka terhadap tekanan pasar. Bobby Clark akhirnya ditebus seharga 6 juta poundsterling dari Red Bull Salzburg, sementara David Ozoh berhasil dipertahankan dengan harga 4 juta poundsterling pada hari terakhir bursa, meski Crystal Palace sempat memasang banderol 10 juta poundsterling pada awal Agustus.
Derby juga menuntaskan status Sammie Szmodics secara permanen dari Ipswich dengan nilai 2,7 juta poundsterling setelah ia memenuhi syarat yang disepakati. Kembalinya Clark, Ozoh, dan Szmodics memang menjaga kualitas skuad, tetapi tidak benar-benar meningkatkan level tim dibandingkan musim lalu. Sementara itu, penyerang Pisa Henrik Meister, pemain Denmark berusia 22 tahun yang baru mencetak dua gol dalam setahun, tiba dengan status pinjaman dan semula diproyeksikan hanya sebagai pelapis Carlton Morris dan Patrick Agyemang.
Badai Cedera yang Membuat Eustace Kehabisan Opsi
Persoalan Derby tidak berhenti pada urusan transfer. Pemain terbaik musim lalu, Matt Clarke, kemungkinan besar baru bisa kembali merumput pada Desember, sementara kiper utama Jacob Widell Zetterstrom harus menepi sekitar enam pekan. Bek pinjaman dari Brighton, Eiran Cashin, juga masih menjalani pemulihan, dan Derry Murkin, yang diproyeksikan sebagai bek kiri pilihan utama, baru bisa bermain setelah Natal.
Kombinasi cedera tersebut membuat Eustace praktis tidak pernah bisa menurunkan empat bek yang sama dalam dua pertandingan beruntun sejak Agustus. Padahal, menjaga konsistensi lini belakang adalah salah satu kunci bertahan di kompetisi seketat Championship. Kondisi ini memaksa pelatih terus mengotak-atik komposisi pemain di tengah jadwal yang padat.
Di lini depan, masalahnya tak kalah rumit. Meister mengalami cedera kepala saat melawan Birmingham bulan ini, sementara Agyemang sudah absen sejak April karena masalah Achilles yang serius. Alhasil, pemain yang semula diplot sebagai pelapis justru harus memikul tanggung jawab sebagai ujung tombak utama. Derby pun kehilangan daya gedor di saat mereka paling membutuhkannya.
Posisi di Klasemen dan Konteks Persaingan Championship
Lima poin dari delapan laga adalah catatan yang jauh dari harapan, tetapi konteksnya perlu dilihat secara jujur. Derby juga menolak sejumlah tawaran untuk pemain penting seperti Agyemang dan Zetterstrom, yang menunjukkan bahwa klub tetap berusaha menjaga fondasi skuad. Sayangnya, upaya itu belum berbuah hasil di atas lapangan.
Musim lalu, Derby mengumpulkan delapan poin dari sepuluh pertandingan pembuka dan tetap finis di posisi kedelapan, hanya terpaut empat poin dari zona enam besar. Jika performa mereka pada 36 laga terakhir musim lalu dirata-ratakan untuk satu musim penuh, hasilnya cukup untuk finis di peringkat kelima. Fakta itu membuktikan bahwa tim ini mampu bangkit, sekaligus menambah rasa frustrasi karena mereka kembali mengulang start yang lambat.
Dengan posisi kedelapan kini sudah cukup untuk mengamankan tiket play-off, target tersebut semula dinilai sangat mungkin dicapai. Namun, perjalanan musim ini sejauh ini justru mengikuti pola yang hampir identik dengan tahun sebelumnya. Derby berikutnya akan menjamu Wrexham pada Sabtu, sebuah laga yang bisa menjadi titik balik sekaligus ujian mental bagi skuad yang sedang tertekan.
Rekam Jejak Eustace Jadi Alasan Derby Tetap Percaya
Posisi Eustace sebagai pelatih kepala tidak dalam ancaman. Manajemen klub meyakini bahwa sosok mantan gelandang The Rams tersebut adalah orang yang paling tepat untuk menarik tim keluar dari kesulitan. Rekam jejaknya di kompetisi ini menjadi dasar kepercayaan tersebut.
Pada 2023, Eustace dipecat Birmingham City ketika klub itu berada di peringkat keenam, sebelum akhirnya Birmingham terdegradasi setelah menunjuk Wayne Rooney sebagai penggantinya. Sebelumnya, ia juga menyelamatkan Blackburn dari ancaman degradasi pada musim 2023-24, lalu meninggalkan klub tersebut dalam posisi bersaing di zona play-off. Dua contoh itu memperlihatkan bahwa ia mampu membalikkan keadaan ketika tekanan paling besar.
Kendati demikian, Eustace tetap membutuhkan banyak hal berjalan sesuai rencana. Setelah badai sempurna yang menerpa Pride Park, mulai dari batalnya takeover hingga badai cedera, ia butuh semua kepingan puzzle akhirnya tersusun rapi. Tanpa itu, perjuangan Derby untuk keluar dari zona degradasi akan tetap terasa seperti mendaki bukit yang terus bertambah tinggi.
Kegagalan takeover Derby County memang menjadi pemicu utama kekacauan musim ini. Pembatalan di menit-menit akhir, target transfer yang lepas, harga pemain yang membengkak, dan badai cedera saling bertumpuk menjadi satu persoalan besar. Namun, rekam jejak Eustace dan kemampuan tim ini bangkit pada musim lalu menunjukkan bahwa peluang untuk keluar dari tekanan masih terbuka lebar.
Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar keajaiban di bursa transfer, melainkan konsistensi di atas lapangan begitu para pemain kunci kembali tersedia. Jika Derby mampu melewati periode tersulit ini, narasi musim mereka bisa berubah dari kisah kehancuran menjadi cerita tentang ketahanan sebuah klub. Semua itu akan mulai terjawab dalam laga-laga berikutnya, dimulai dari pertemuan dengan Wrexham.