Kampanye Ballon d’Or kini bukan sekadar soal performa di lapangan. Sejak Ousmane Dembele menerima trofi berbentuk bola emas di Theatre du Chatelet, Paris, September lalu, persaingan untuk edisi 2026 langsung bergulir di ruang media, media sosial, dan lobi di balik layar. Tahun 2026 sendiri bertekanan khusus karena bertepatan dengan Piala Dunia, sehingga narasi tentang siapa yang layak menang sering bercampur dengan pembahasan soal bagaimana prestasi di turnamen itu bisa memperkuat kans seorang pemain.
Bagi pemain dan klub, Ballon d’Or adalah salah satu penghargaan individual paling bergengsi di sepak bola. Sistem pemilihannya melibatkan jurnalis dari 100 negara berperingkat teratas FIFA, sementara daftar 30 kandidat disusun France Football dan L’Equipe. Karena itu, dukungan publik, liputan media, dan tekanan opini bisa terasa sangat penting. Klub pun berkepentingan menjaga nama pemainnya tetap menonjol, bukan hanya demi prestise, tetapi juga popularitas dan nilai komersial.

Kampanye Ballon d’Or: Lobi, PR, dan Narasi Media
Pakar sepak bola Eropa Guillem Balague menilai Ballon d’Or dibahas hampir setiap hari. Menurut dia, penghargaan ini mengikuti pola masyarakat yang memberi bobot besar pada individu. Hal itu membuat cerita tentang satu pemain lebih mudah dipahami daripada penjelasan tentang kerja kolektif sebuah tim. Dalam konteks itulah kampanye Ballon d’Or tumbuh: bukan hanya untuk menilai siapa yang paling baik, tetapi juga untuk membentuk cara publik dan pemilih memandang pencapaian seorang pemain.
Jurnalis sepak bola Prancis Julien Laurens menyoroti mesin PR yang dipakai sebagian klub dan pemain. Manajer serta direktur olahraga sengaja memuji anak asuhnya di depan media, kadang sambil mempertanyakan mengapa pemain lain di skuad mereka tidak masuk daftar 30 besar. Direktur Barcelona Deco menyebut absennya Raphinha dan Pedri sebagai skandal besar, lalu mendukung Lamine Yamal sebagai favorit kuat. Ia menegaskan dukungan itu bukan karena Yamal juga pemain Barcelona, melainkan karena ia menikmati sepak bola yang ditampilkan sang pemain.
Sejumlah bintang juga ikut menambah riuh perdebatan. Lamine Yamal menegaskan tidak akan memohon apa pun, meski sebelumnya pernah bermimpi memenangi banyak Ballon d’Or; ia juga menyarankan penghargaan itu tidak seharusnya hanya jatuh ke pencetak gol terbanyak. Pelatih Paris Saint-Germain Luis Enrique mengaku bosan dengan Ballon d’Or, meski klubnya mengirim rekor 10 pemain ke daftar pendek. Dembele dan Khvicha Kvaratskhelia saling memuji kepada BBC Sport, bahkan bercanda bahwa trofi itu bisa dibelah dua. Di Georgia, kampanye “Kvara d’Or” digelar untuk merayakan pemain sayap kesayangan negara itu, dengan penekanan bahwa arti kemenangan bagi negara kecil sering sulit dipahami negara besar.
Kylian Mbappe memilih pendekatan yang lebih terang-terangan. Ia menyatakan selalu merasa yang terbaik, meski sadar setiap orang punya pendapat sendiri. Sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, ia menilai tahun ini bisa menjadi momen bagus untuk memenangi Ballon d’Or, tetapi ia juga mengingatkan bahwa jurnalislah yang memilih. Sikap itu mendapat kritik dari Jean-Pierre Papin, peraih Ballon d’Or 1991, yang menilai Mbappe hebat tetapi kadang terlalu berpusat pada diri sendiri. Di sisi lain, Max Eberl dari Bayern Munich menegaskan pemain terbaik justru tidak perlu menjalankan kampanye.
Sistem Voting dan Batas Waktu yang Sudah Lewat
Sejak periode singkat keterlibatan kapten dan pelatih tim nasional berakhir pada 2015, Ballon d’Or ditentukan oleh satu jurnalis dari masing-masing 100 negara teratas dalam peringkat FIFA. Daftar 30 kandidat disusun oleh France Football dan L’Equipe, lalu para jurnalis tersebut memberikan suara. Mekanisme ini menjelaskan mengapa kampanye tidak hanya menyasar penggemar, tetapi juga berupaya membangun legitimasi di mata media internasional. Batas waktu pemungutan suara telah lewat dan pemenangnya sudah ditentukan, meski publik baru akan mengetahuinya pada malam penghargaan.
Untuk edisi 2026, seremoni digelar di London untuk menandai 70 tahun Stanley Matthews memenangi hadiah pertama. Bagi Harry Kane, momen itu berpotensi menjadi pencapaian besar karena ia berupaya menjadi pemain Inggris pertama yang menang dalam 25 tahun dan hanya yang kelima sepanjang sejarah. Kane sendiri menjaga ucapannya tetap hati-hati soal kansnya, tetapi sejumlah pihak lain telah menyuarakan dukungan, termasuk Rio Ferdinand melalui akun resmi Bayern. Ia juga dibayangi sejarah klub: Bayern belum memiliki pemenang sejak Karl-Heinz Rummenigge menang dua kali berturut-turut pada 1981, dan Bundesliga belum kembali meraihnya sejak Matthias Sammer dari Borussia Dortmund 30 tahun lalu.
Bayern juga punya pengalaman pahit lewat Robert Lewandowski. Pada 2020, ia disebut-sebut sebagai favorit setelah mencetak gol dengan laju luar biasa ketika Bayern menyapu enam trofi, termasuk Liga Champions, tetapi seremoni dibatalkan akibat pandemi Covid-19. Musim berikutnya, Lewandowski finis sebagai runner-up di belakang Messi. Ia kemudian menilai penghargaan ini sudah menjadi campuran sepak bola dan politik, serta lebih komersial dibandingkan The Best FIFA Men’s Player. Pernyataan itu menunjukkan bahwa bagi sebagian pemain, proses pencitraan di sekitar trofi sama pentingnya dengan performa di lapangan.
Dari Matthews hingga Era Global: Sejarah Singkat Trofi
Ballon d’Or diluncurkan pada 1956 dan selama beberapa dekade hanya terbuka bagi pemain Eropa. Aturan itu baru berubah pada 1995, ketika George Weah menjadi pemain Afrika pertama dan sejauh ini satu-satunya yang memenanginya. Pada 2007, penghargaan ini benar-benar menjadi global karena terbuka untuk pemain dari klub mana pun, bukan hanya mereka yang membela klub Eropa. Seremoni glamor baru digelar pada 2011, sedangkan penghargaan untuk kategori putri baru diluncurkan pada 2018.
Michael Owen pernah bercerita bahwa ia bahkan tidak tahu apa itu Ballon d’Or ketika pelatih Liverpool Gerard Houllier menelepon untuk memberi kabar bahwa ia menang pada 2001. Saat itu ia baru berusia 22 tahun. Owen menjalani sesi foto di markas latihan Melwood dua pekan sebelum gambar-gambar itu disebarkan ke media, lalu trofi diserahkan secara resmi di lapangan Anfield sebelum pertandingan melawan Derby County. Ia menjadi pemain pertama yang menang saat membela klub Inggris sejak George Best dari Manchester United pada 1968, dengan periode di antaranya didominasi klub Italia, Spanyol, dan Jerman.
Perjalanan sejarah itu memperlihatkan bagaimana Ballon d’Or berubah dari penghargaan tertutup menjadi ajang global yang sarat liputan. Semakin banyak negara, klub, dan platform media terlibat, semakin banyak pula pihak yang merasa berhak membentuk opini. Dalam kondisi seperti itu, kampanye Ballon d’Or tidak selalu berupa pernyataan resmi atau iklan besar. Kadang ia muncul lewat wawancara kecil, pujian dari manajer, potongan video viral, atau perdebatan penggemar yang terus berulang di media sosial.
Dampak bagi Pemain dan Klub: Popularitas hingga Nilai Komersial
Mantan CEO dan direktur olahraga AC Milan Ariedo Braida menegaskan kemenangan Ballon d’Or memberi dampak yang sangat positif. Milan membeli Kaka sekitar 7,5 juta euro dan menjualnya ke Real Madrid seharga 67 juta euro. Braida juga mengingat pada 2008, setelah Kaka menang pada 2007, Manchester City mengirim tawaran tertulis senilai 105 juta euro. Ia menekankan itu bukan sekadar penjajakan lisan, melainkan tawaran resmi. Nilai Kaka saat itu naik berlipat ganda, dan trofi tersebut memberinya eksposur serta ketenaran global.
Bagi klub, efeknya tidak berhenti pada prestise. Braida menjelaskan bahwa kemenangan menghasilkan dampak luar biasa dalam hal popularitas, visibilitas, dan pemasukan finansial. Di era media sosial, ketika jumlah pengikut dan percakapan daring ikut membentuk nilai komersial, pengaruh itu menjadi lebih besar lagi. James Kirkham menyebutnya sebagai poin global: semakin banyak audiens dan perhatian, semakin besar pula uang yang berputar di sekitarnya. Karena itu, klub punya alasan kuat untuk memastikan pemainnya tetap menjadi bagian dari narasi utama.
Namun, kekalahan juga bisa meninggalkan luka. Franck Ribery merasa seperti dirampok ketika kalah dari Cristiano Ronaldo pada 2013. Real Madrid memboikot seremoni 2024 setelah mengetahui Rodri dari Manchester City akan menang, bukan Vinicius Junior. Di Brasil, menurut jurnalis sepak bola internasional Globo, Caique Andrade, kegagalan Vinicius memenangi Ballon d’Or 2024 memicu keriuhan besar. Ini menunjukkan bahwa penghargaan individual tetap terikat pada emosi kolektif: penggemar, klub, dan bahkan media di suatu negara bisa merasa hasilnya berbicara tentang harga diri mereka.
Era Messi-Ronaldo dan Ledakan Media Sosial
Mbappe mengakui bahwa gagasannya tentang Ballon d’Or terbentuk dari era Messi dan Ronaldo. Menurut dia, penghargaan itu tidak diberikan kepada pemain biasa, melainkan kepada pemain yang berbeda. Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo mendominasi dengan total 13 trofi dalam rentang 15 tahun antara 2008 dan 2023. Kaka dari AC Milan adalah penerima terakhir sebelum duel keduanya dimulai, ketika ia mengalahkan dua pemain muda itu pada 2007. Sejak saat itu, perhatian pada rekor individu, narasi penggemar, dan rivalitas personal semakin membesar.
Perubahan lanskap media mempercepat semua itu. Braida mengenang bahwa ketika Messi menang untuk kedelapan kali pada 2023, dunia sudah berubah sangat jauh dibandingkan masanya. Ia menilai segalanya kini bergerak dengan kecepatan cahaya dan penggemar lebih mengikuti individu daripada klub. Fenomena itu, katanya, juga terlihat di politik. Dulu orang menjadi penggemar Milan dan menonton Milan; sekarang pertandingan disiarkan langsung dan Liga Champions membuat bintang-bintang besar bisa dilihat seketika. Braida mengaku sedikit nostalgi karena antisipasi yang dulu membangun kerinduan kini hampir hilang.
Kirkham menggambarkan kebisingan sosial saat ini sebagai sesuatu yang memekakkan telinga, tanpa henti, dan menyita perhatian. Setiap penggemar punya selera yang sulit dipuaskan, setiap poin diperdebatkan dan direaksikan. Klip gol indah, keterampilan magis, atau dribel memukau mudah menjadi viral, tetapi opini juga menyebar dengan cara yang sama. Satu kata di siaran bisa berubah menjadi tweet, video reaksi, reels, shorts, stories, lalu kembali muncul di radio dan televisi. Ekosistem itu membentuk narasi, baik untuk mendukung maupun menyerang seorang pemain. Tidak ada yang secara sadar melakukan kesalahan, tetapi secara massal mesin opini itu menghasilkan tekanan yang sangat kuat.
Braida sepakat bahwa eksposur media kini sangat krusial. Dengan internet, dunia terasa seperti desa global kecil karena siapa pun bisa menjangkau informasi dari mana saja secara real time. Dalam konteks Ballon d’Or, artinya kampanye tidak lagi hanya milik klub atau agen, tetapi juga milik penggemar, kreator konten, dan media di seluruh dunia. Setiap percakapan kecil bisa memperkuat atau melemahkan citra seorang kandidat, bahkan ketika pemungutan suara telah selesai.
Penutup
Ballon d’Or tetap menjadi hadiah individual paling bergengsi, tetapi maknanya kini melampaui performa di lapangan. Kampanye Ballon d’Or berjalan melalui wawancara, pujian manajer, perdebatan media, dan gelombang opini di media sosial; semuanya membentuk narasi yang bisa memengaruhi persepsi publik dan pemilih. Bagi pemain, trofi ini memperbesar nama dan nilai komersial; bagi klub, ia menghadirkan visibilitas serta dampak finansial; bagi penggemar, ia menjadi bahan perdebatan identitas dan kesetiaan.
Ketika pemenang edisi 2026 akhirnya diumumkan, hasilnya tidak hanya mencerminkan statistik dan trofi tim. Ia juga merupakan buah dari pertarungan narasi yang berlangsung sejak trofi sebelumnya diserahkan. Di tengah banjir konten dan opini, kemampuan seorang pemain untuk tampil luar biasa tetap menjadi dasar, tetapi kemampuan ekosistem di sekelilingnya bercerita tentang pencapaian itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kompetisi.