Ada satu bingkai foto dari derby Milan yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan publik sepak bola. Di dalamnya, Rui Costa berdiri dengan tenang sementara siku Marco Materazzi bersandar di bahunya, dan di belakang keduanya membubung asap merah serta nyala flare di atas rumput San Siro. Tidak ada bola, tidak ada duel, tetapi gambar itu justru merekam jeda paling mencekam dalam sejarah pertemuan AC Milan dan Inter Milan.
Foto tersebut lahir pada leg kedua perempat final Liga Champions 2005, sebuah laga yang akhirnya dihentikan wasit Markus Merk setelah suporter Inter menghujani lapangan dengan flare dan berbagai benda. Stefano Rellandini, fotografer yang saat itu bekerja untuk Reuters, mengabadikan momen itu hanya dalam satu kali tekan tombol. Lewat wawancaranya dengan BBC Sport, ia mengungkap bagaimana sebuah gambar diam bisa bercerita begitu banyak tentang ketegangan dua klub sekota.

Satu Bingkai di Tengah Kekacauan
Rellandini mengaku hampir semua orang di stadion saat itu matanya tertuju pada flare dan asap yang memenuhi udara. Namun ia memilih mengarahkan lensa ke area tengah lapangan, tempat dua pemain dari kubu berbeda berdiri berdekatan tanpa saling menyerang. Di titik itulah ia melihat sesuatu yang menurutnya lebih menarik daripada kerusuhan itu sendiri.
Ia menggambarkan Materazzi sebagai pemain bertipe keras, sosok yang oleh sebagian orang dijuluki “jagal” karena gaya mainnya yang tidak lembut. Rui Costa digambarkan sebagai kebalikannya: pemain Portugal yang elegan, tenang, dan artistik dalam mengolah bola. Selama beberapa detik, siku bek Inter itu terletak di bahu gelandang Milan tersebut, dan Rellandini langsung membidik.
Menurutnya, tidak ada rangkaian foto panjang dari adegan itu. Ia hanya mendapatkan satu frame dalam sekuens tersebut, dan itulah yang kemudian menjadi karya paling dikenang dari malam itu. Kombinasi antara ketenangan dua pemain dan kekacauan di tribun membuat gambar itu terasa seperti potret kecil dari seluruh atmosfer derby Milan.
Laga yang Berhenti Sebelum Selesai
Pertandingan itu sendiri sebenarnya berjalan sesuai skenario bagi Milan. Andriy Shevchenko membuka keunggulan pada sekitar setengah jam pertama leg kedua dengan sepakan kaki kiri dari luar kotak penalti yang melewati Francesco Toldo. Sebelumnya, penyerang asal Ukraina itu luput dari hukuman meski terlihat melakukan tandukan ke arah Materazzi, sebuah keputusan yang menambah kemarahan pendukung Inter yang juga merasa timnya berhak mendapat penalti.
Titik balik terjadi ketika laga tersisa kurang dari 20 menit. Kepala botak Esteban Cambiasso menyambut sepak pojok Juan Sebastian Veron dan bola masuk, seolah membuat agregat menjadi 3-1. Namun gol itu dianulir karena Julio Cruz dinilai melakukan pelanggaran terhadap kiper Milan, Dida, meski kontak yang terlihat sangat minim.
Sejak saat itu, flare mulai menghujani lapangan dari arah tribun ultras di Curva Nord. Salah satunya mengenai bahu Dida dan nyaris mengenai kepalanya ketika ia berusaha menyingkirkan benda-benda piroteknik dari area penaltinya. Para pemain berkumpul di tengah lapangan, dengan Paolo Maldini, Cambiasso, dan kapten Inter Javier Zanetti berdebat dengan wasit, sementara Zanetti dan Veron sempat membantu petugas pemadam memindahkan puing dari mulut gawang.
Kedua tim akhirnya diperintahkan meninggalkan lapangan dan berlindung melalui terowongan yang berada di sudut stadion yang sama dengan tribun ultras. Laga dihentikan hampir setengah jam, sebuah hal yang terasa sangat janggal pada masanya. Ketika pertandingan dicoba dilanjutkan, Dida yang telah dirawat karena luka bakar tingkat satu digantikan Christian Abbiati, tetapi hanya 30 detik berselang Markus Merk memutuskan menghentikan laga secara permanen.
Milan di Puncak, Inter di Bawah Bayangan
Ketegangan malam itu tidak muncul dari ruang kosong. Dua tahun sebelumnya, Milan menyingkirkan Inter di semifinal lewat aturan gol tandang, meski kedua leg di San Siro berakhir imbang, sebelum akhirnya mengalahkan Juventus lewat adu penalti di Old Trafford. Milan juga memasuki musim 2004-05 sebagai juara Italia, gelar Scudetto keenam mereka sejak Inter terakhir merebut titel Serie A pada 1988-89.
Di bawah pemilik Silvio Berlusconi dan pelatih Carlo Ancelotti, Milan sedang membangun generasi hebat keduanya. Empat bek Cafu, Jaap Stam, Alessandro Nesta, dan Maldini berdiri di belakang Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, Massimo Ambrosini, serta Kaka, dengan Hernan Crespo dan Shevchenko di lini depan. Rui Costa, ironisnya, hanya duduk di bangku cadangan pada laga yang kemudian melahirkan fotonya paling terkenal itu.
Sementara itu, Inter menghabiskan dana besar untuk mengejar ketertinggalan. Ketua klub Massimo Moratti dua kali memecahkan rekor transfer dunia dalam rentang tiga tahun, pertama saat mendatangkan Ronaldo dari Barcelona pada 1997 dan kemudian Christian Vieri dari Lazio pada 1999. Crespo dan Seedorf juga datang ke Inter dengan harga mahal, tetapi tidak meraih trofi berarti sebelum akhirnya menyeberang ke Milan.
Pada 2005, lini tengah Inter dibangun di sekitar duet Argentina, Cambiasso dan Veron, dengan penyerang muda Brasil Adriano sedang menikmati musim paling produktifnya bersama jersey hitam-biru. Tim itu terus membaik, tetapi hasil akhirnya belum berubah. Pendukung rival menjuluki mereka “juara Agustus”, sindiran atas ekspektasi besar di bursa transfer yang selalu menguap ketika trofi mulai diperebutkan pada Mei.
Di kalangan pendukung Inter sendiri ada perasaan bahwa mereka berlari di lintasan yang tidak adil, karena Milan dan Juventus bersama-sama memenangi 11 dari 13 gelar sebelumnya. Dalam suasana itulah desas-desus skandal mulai terdengar di tribun, seiring penyelidikan pidana atas dugaan penyuapan dan korupsi di dunia sepak bola yang dimulai di Napoli dan Turin. Setahun kemudian, Calciopoli benar-benar meletus: Juventus terdegradasi ke Serie B dan dicabut dua gelarnya, sementara Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina mendapat pengurangan poin.
Tekanan yang Dirasakan Para Pemain
Bagi mereka yang berada di lapangan, derby Milan bukan sekadar pertandingan biasa. Alessandro Costacurta, bek veteran Milan yang masuk sebagai pengganti di leg pertama, menyebut hari-hari Derby della Madonnina sebagai momen terburuk dalam kariernya. Ia mengaku tidak bisa tidur karena gejolak emosi dan ketegangan yang menyertainya.
Maldini menggambarkan ada semacam “listrik” yang mengalir di seluruh kota menjelang laga. Shevchenko juga mengaku sulit tidur dan mengingat bagaimana warna-warna klub semakin banyak terlihat di sudut kota ketika pertandingan mendekat. Dalam wawancaranya dengan Gazzetta dello Sport, ia menyebut suasana itu penuh ketegangan dan antisipasi, tetapi di atas segalanya penuh gairah, dan menurutnya selalu disampaikan dengan sikap yang beradab.
Hukuman UEFA dan Gema Panjangnya
Setelah laga dihentikan, UEFA menjatuhkan denda sekitar 132.000 poundsterling kepada Inter dan memerintahkan mereka memainkan empat pertandingan Eropa tanpa penonton. Juru bicara badan sepak bola Eropa itu menyebutnya sebagai denda terbesar dalam sejarah UEFA, sambil mengakui bahwa akan ada pihak yang menilainya terlalu ringan dan ada pula yang menganggapnya terlalu berat.
Kepala kepolisian Milan, Paolo Scarpi, menimpakan kesalahan pada “dua sampai tiga ratus hooligan, kepala panas biasa dari sektor Inter”. Berlusconi, yang saat itu menjabat Perdana Menteri Italia sekaligus pemilik Milan, menyerukan langkah drastis untuk membendung kekerasan di stadion. Ancelotti menyebut kejadian itu sebagai episode memalukan yang tidak hanya mencoreng Inter, tetapi juga seluruh kota, dan mengaku terkejut karena belum pernah melihat hal serupa dalam derby Milan yang pernah ia jalani.
Maldini menilai keputusan wasit sudah tepat, meski ia sempat heran karena laga tetap dicoba dilanjutkan, dan menilai upaya itu baik karena banyak penonton telah membayar tiket. Milan pun melaju ke semifinal dan menyingkirkan PSV Eindhoven lewat gol tandang, dengan Dida mencatat rekor Liga Champions berupa tujuh clean sheet beruntun pada kemenangan 2-0 di leg pertama. Namun gelar ketujuh yang sudah di depan mata harus sirna di Istanbul, ketika Liverpool mencetak tiga gol dalam enam menit dan menang lewat adu penalti.
Dua tahun kemudian Milan membalas kekalahan itu dengan mengalahkan Liverpool di final Athena. Di level domestik, pengurangan poin Milan dan degradasi Juventus membuka jalan bagi dominasi Inter: mereka dianugerahi gelar 2006, lalu meraih empat gelar berturut-turut, berpuncak pada Treble bersama Jose Mourinho di musim 2009-10. Menariknya, hingga kini tidak ada lagi tim Milan yang menjuarai kompetisi tersebut sejak malam yang penuh asap itu.
Penutup
Kisah derby Milan pada 2005 menunjukkan bahwa sepak bola bisa berhenti di tengah jalan, tetapi jejaknya tetap panjang. Satu foto Rui Costa dan Materazzi bertahan lebih lama daripada hasil pertandingan itu sendiri, karena ia merangkum dua hal sekaligus: keanggunan permainan dan kekerasan yang kadang menyertainya di tribun.
Bagi Milan, malam itu adalah awal dari perjalanan yang berujung pada kekecewaan di Istanbul dan pembalasan di Athena. Bagi Inter, insiden tersebut menjadi noda yang kemudian terhapus oleh rentetan gelar di era berikutnya. Dan bagi Rellandini, satu bingkai yang ia bidik di tengah asap tetap menjadi cara paling jujur untuk mengingat betapa panasnya sebuah derby Milan.