Situs berita bola

Ezri Konsa Jawab Keraguan, Arsenal Tetap Kokoh Tanpa Saliba

Ezri Konsa menjadi jawaban atas kekhawatiran terbesar Arsenal musim ini. Ketika William Saliba harus menepi karena cedera punggung jangka panjang, bek berkebangsaan Inggris itu justru tampil sebagai sosok yang membuat lini belakang The Gunners tetap rapat dan sulit ditembus. Dalam delapan laga awal Premier League, Arsenal menjadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit sekaligus bertahan di puncak klasemen dengan poin setara pemuncak lainnya.

Kepercayaan diri Konsa bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Saliba sudah membentuk duet yang solid bersama Gabriel Magalhaes di jantung pertahanan Arsenal, kombinasi yang menjadi fondasi tim ketika hanya kebobolan 27 gol sepanjang musim liga lalu dan mengangkat trofi Premier League. Karena itu, ketika manajemen mengumumkan pada Juli bahwa Saliba akan absen dalam “periode panjang”, wajar bila sebagian pendukung langsung cemas. Kini, kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi pujian, dan nama Konsa berada di pusat perbincangan tentang siapa pasangan bek tengah terbaik saat ini.

Pertahanan Arsenal Tetap Perkasa di Awal Musim

Delapan pertandingan telah berjalan dan Saliba belum sekali pun tampil. Meski demikian, pasukan Mikel Arteta masih berdiri sebagai tim dengan catatan kebobolan paling sedikit di Premier League, sebuah bukti bahwa sistem pertahanan mereka tidak bergantung pada satu nama saja. Arsenal juga telah mencatat lima clean sheet dari delapan laga, jumlah yang tidak disamai tim mana pun di liga musim ini.

Konsa menjadi salah satu penyumbang utama rapor tersebut. Setelah bergabung hanya beberapa jam sebelum laga pembuka melawan Coventry, ia langsung dipercaya tampil sebagai starter dalam enam pertandingan. Debutnya sendiri terjadi sebagai pemain pengganti pada laga kedua melawan mantan klubnya, Aston Villa, ketika Cristhian Mosquera mengalami cedera.

Kontribusinya bahkan merambah ke lini serang. Pada laga melawan Everton, Konsa mencetak gol pertamanya untuk Arsenal, menambah nilai bagi tim yang sedang berusaha mempertahankan konsistensi di puncak. Ia mengaku tidak terkejut dengan performa apik timnya karena atmosfer kandang memang memberi tekanan tersendiri bagi lawan.

“Saya sudah datang ke stadion ini selama bertahun-tahun, saya tahu betapa sulitnya bermain melawan kami. Jadi ini bukan hal yang mengejutkan bagi saya. Kami juara, dan untuk tetap jadi juara Anda harus menang secara konsisten. Ini rumah kami dan kami ingin menang sebanyak mungkin di sini,” ujar Konsa seusai pertandingan.

Dari Keraguan Publik ke Pujian di Lini Belakang

Keputusan Arsenal mendatangkan Konsa dari Aston Villa dengan mahar 55 juta poundsterling pada Agustus sempat memicu perdebatan. Pertanyaan yang muncul antara lain soal besarnya biaya, kebutuhan tim mengingat Mosquera sudah ada di skuad, serta alasan memilih bek alih-alih menambah kekuatan di lini depan. Arsenal sendiri ketika itu sudah memiliki tujuh bek senior di dalam skuad, ditambah fakta bahwa mereka punya salah satu duet pertahanan paling solid di dunia.

Namun, ada alasan strategis di balik langkah tersebut. Arsenal tengah mengubah pendekatan rekrutmennya dengan mengutamakan pemain yang berada di puncak karier, sejalan dengan upaya memanfaatkan jendela kompetisi mereka untuk terus meraih trofi. Konsa, yang berusia 29 tahun, tepat berada di fase tersebut dan dinilai siap berkontribusi secara instan.

Rekam jejaknya juga berbicara. Sejak bergabung dari Brentford pada Juli 2019, ia mencatat 286 penampilan bersama Aston Villa dan membantu klub itu menjuarai Liga Europa pada Mei, trofi Eropa pertama mereka sejak 1982. Bersama tim nasional Inggris, ia kini menjadi pilihan utama dan tampil sebagai starter dalam tujuh dari delapan pertandingan di Piala Dunia.

Morgan Rogers, mantan rekannya di Villa yang juga pindah dengan harga fantastis ke Chelsea senilai 117 juta poundsterling pada musim panas lalu, menegaskan bahwa Konsa kurang mendapat apresiasi yang layak. Menurutnya, Konsa adalah salah satu bek tengah terbaik di sepak bola saat ini.

Statistik dan Penilaian Arteta Soal Ezri Konsa

Penilaian positif itu didukung data. Secara individual, Konsa mencatat persentase akurasi umpan terbaik dari seluruh pemain Premier League musim lalu, dan kini memimpin lagi dengan tingkat keberhasilan 96 persen dari 324 umpan pada musim 2026-27. Ia juga menempati peringkat teratas dalam hal tingkat keberhasilan di antara pemain lapangan Premier League yang terlibat dalam 20 duel darat atau lebih pada musim sebelumnya, dan saat ini berada di posisi ke-12 untuk kategori serupa.

Mikel Arteta mengakui proses adaptasi Konsa berjalan di luar dugaan. Menurutnya, sangat jarang ada pemain yang bisa langsung menyatu dengan tim besar tanpa menjalani pramusim, terutama ketika posisinya bersaing dengan pemain yang sudah lebih dulu mapan.

“Dia datang ke klub besar seperti Arsenal tanpa pramusim, saat Saliba ada di sini dan pemain-pemain lain juga sudah lebih dulu bergabung. Bisa menempatkan diri seperti itu, dengan naturalitas yang saya maksud, lalu tampil di level sekarang dan sudah membangun chemistry serta keseimbangan dengan Gabi yang terlihat sangat solid, itu sangat sulit dilakukan. Kami benar-benar beruntung memilikinya,” kata Arteta.

Pujian serupa datang dari Martin Keown, mantan bek Arsenal, yang menyoroti bagaimana Konsa mampu tampil sejajar dengan pemain yang sebelumnya masuk daftar Ballon d’Or sebagai bek terbaik dunia. “Dia sama sekali tidak tersorot redup oleh pemain-pemain yang bermain di sampingnya,” ujarnya di Match of the Day.

Kemitraan Konsa dan Gabriel yang Semakin Matang

Duet Konsa dan Gabriel berkembang sangat cepat. Dalam sembilan laga sebagai starter, Arsenal meraih tujuh kemenangan, lima clean sheet, dan kedua pemain menyumbang dua gol secara keseluruhan. Kombinasi itu memberi Arteta stabilitas yang biasanya hanya bisa didapat setelah proses panjang.

Saat Arsenal mengalahkan Everton, keduanya sama-sama mencetak gol, dan itu menjadi kali pertama dua bek tengah Arsenal mencetak gol dalam satu pertandingan Premier League sejak Februari 2024. Menariknya, momen serupa kala itu juga terjadi melawan tim asuhan David Moyes, ketika Gabriel dan Saliba menjebol gawang West Ham.

Kemitraan ini juga teruji di level Eropa. Konsa menjadi starter dalam tiga pertandingan Liga Champions bersama Gabriel, dan Arsenal belum terkalahkan dalam semua laga tersebut. Konsa sendiri mengakui bahwa kehadiran Gabriel membuat segalanya lebih mudah bagi dirinya.

“Dia membuat hidup saya mudah sejak saya bergabung dengan klub, dan bermain di sampingnya adalah sebuah kesenangan,” ucap Konsa.

Kembalinya Saliba dan Tantangan Berikutnya

William Saliba masih belum memiliki jadwal pasti untuk kembali, meski saat ini sudah menjalani sesi latihan individu di lapangan rumput. Situasi ini membuat Arsenal tidak perlu memaksanya kembali lebih cepat, karena lini belakang tetap tampil solid tanpa dirinya.

Arteta tetap menegaskan bahwa kualitas Saliba tidak perlu diragukan dan tim sangat menantikan kembalinya sang pemain. Ia juga menyinggung Mosquera, yang diyakini akan memberi dampak serupa karena semua bek tengah di skuadnya memiliki karakter khusus.

“William belum fit dan kami sangat ingin dia kembali karena kami tahu apa yang dia berikan. Kami benar-benar beruntung memilikinya, dan saya yakin saat Mosquera bermain hasilnya akan sama karena pemain-pemain itu punya sesuatu yang istimewa. Cara kami melatih mereka, cara mereka ingin berkembang, dan bagaimana mereka saling menjaga, itulah indahnya tim kami,” tutur Arteta.

Tantangan bagi Konsa bukan hanya soal menjaga performa, tetapi juga mempertahankan tempat ketika Saliba kembali nanti. Namun, kemampuannya bermain sebagai bek kanan memberi jalan masuk lain ke starting XI, sehingga peluangnya tetap terbuka dalam banyak skenario.

Kesimpulan

Kehadiran Ezri Konsa terbukti menjadi salah satu keputusan rekrutmen paling tepat yang diambil Arsenal pada musim panas lalu. Keraguan soal harga dan kebutuhan pemain perlahan sirna berkat penampilan konsisten, akurasi umpan yang luar biasa, serta ketenangannya saat berduel. Bersama Gabriel, ia membentuk tembok yang membuat Arsenal tetap berada di jalur juara meski kehilangan salah satu bek terbaiknya.

Justru dari sini ujian sesungguhnya dimulai. Ketika Saliba kembali bugar, Arteta akan dihadapkan pada kemewahan sekaligus dilema memilih pemain untuk jantung pertahanan, sementara Konsa harus membuktikan bahwa performanya bukan sekadar efek sementara. Yang jelas, Arsenal kini punya kedalaman skuad yang jarang dimiliki tim lain, dan itu bisa menjadi pembeda dalam perburuan gelar musim ini.

Exit mobile version