Jeda internasional selama tiga pekan membuat sejumlah manajer klub sepak bola Inggris harus bekerja dengan tekanan yang jauh lebih besar. Selama periode kosong kompetisi ini, klub punya waktu untuk mengevaluasi hasil, dan bagi pelatih yang belum mampu mendulang kemenangan, waktu luang itu justru bisa berubah menjadi ruang sidang. Dua nama yang paling sering disebut adalah manajer Fulham, Alvaro Arbeloa, dan manajer Manchester United, Michael Carrick.
Keduanya akan bertemu di Craven Cottage pada laga terakhir sebelum para pemain berangkat memperkuat negaranya masing-masing. Laga tersebut menjadi penutup sebelum kompetisi berhenti tiga pekan, dan hasilnya berpotensi menentukan suasana hati kedua klub selama masa jeda. Tekanan ini muncul di awal musim ketika pemecatan manajer biasanya masih jarang terjadi, sehingga situasinya menjadi tidak biasa.
Tiga Pelatih EFL Sudah Kehilangan Pekerjaan
Sejauh musim ini berjalan, sudah ada tiga pelatih di kompetisi EFL yang kehilangan posisinya. Mereka adalah Paul Heckingbottom di Preston North End, Michael Duff di Wycombe Wanderers, dan Luke Williams di Peterborough. Angka ini menunjukkan bahwa ketidakstabilan kursi pelatih tidak hanya terjadi di level teratas, melainkan merata di seluruh piramida sepak bola Inggris.
Meski begitu, masih banyak pelatih lain yang harus terus melihat ke belakang dan mengukur seberapa aman posisi mereka. Jeda internasional menjadi periode yang paling dicermati, karena di situlah klub biasanya punya cukup waktu untuk melakukan perombakan tanpa mengganggu jadwal pertandingan. Tanpa laga kompetitif selama tiga pekan, keputusan besar bisa diambil tanpa risiko kekacauan mendadak di ruang ganti.
Fulham dan Manchester United menjadi dua klub yang paling disorot karena mereka saling berhadapan tepat sebelum jeda dimulai. Laga di Craven Cottage itu praktis menjadi kesempatan terakhir bagi kedua manajer untuk memberi bukti sebelum klub memiliki waktu panjang untuk berpikir ulang.
Arbeloa dan Carrick di Pusat Sorotan
Bagi Alvaro Arbeloa, situasi di Fulham masih terbilang baru. Ia ditunjuk sebagai manajer pada musim panas setelah sebelumnya hanya menangani 28 pertandingan sebagai pelatih Real Madrid pada paruh kedua musim lalu. Pengalaman sekecil itu membuat setiap hasil buruk terasa lebih berat, karena ia belum sempat membangun rekam jejak yang cukup panjang untuk dijadikan tameng.
Empat laga pertama di Liga Premier berjalan tanpa kemenangan, dengan tiga di antaranya berakhir kekalahan. Selain itu, muncul spekulasi mengenai ketidaknyamanan di dalam skuad yang dikaitkan dengan aktivitas media sosial para pemain. Kombinasi hasil buruk dan isu internal seperti ini biasanya mempercepat munculnya pertanyaan soal masa depan seorang pelatih.
Di Old Trafford, situasi Michael Carrick juga tidak nyaman. Kekalahan 3-2 dari Brighton di Piala EFL pada hari Rabu menjadi pemicu perdebatan, karena itu adalah kali pertama United unggul dua gol di kandang lalu kalah, sejak mereka dikalahkan Tottenham 3-2 pada 1976 atau hampir setengah abad lalu. Kekalahan itu datang setelah tumbang 1-0 dari Manchester City yang bermain dengan sepuluh orang, sehingga kemenangan musim ini hanya tercatat atas Ipswich Town dan Sabah.
Meski begitu, Carrick sendiri menilai kekhawatiran berlebihan itu tidak berdasar. Ia menyebut pandangan bahwa posisinya terancam sebagai hal yang tidak masuk akal, dan menegaskan bahwa situasinya jauh dari bencana.
Statistik: Klub Jarang Ganti Manajer Saat Jeda Internasional
Data sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa pergantian manajer di Liga Premier pada awal musim termasuk jarang terjadi. Apalagi jika waktunya bersamaan dengan jeda internasional. Karena itu, gelombang spekulasi yang muncul sekarang ini tidak otomatis berarti akan berujung pada pemecatan.
Yang membuat musim ini berbeda adalah durasi dan penempatan jedanya. Jeda pertama kini berlangsung tiga pekan, bukan dua, dan datang lebih lambat dibanding sebelumnya. Dahulu, jeda bulan September biasanya jatuh di awal bulan ketika klub baru memainkan tiga pertandingan liga.
Dalam sepuluh tahun terakhir, hanya dua manajer yang meninggalkan klubnya selama jeda September, yaitu Javi Gracia di Watford pada 2019 dan Nuno Espirito Santo di Nottingham Forest pada tahun lalu. Untuk jeda Oktober, jumlahnya juga hanya dua, yakni Francesco Guidolin di Swansea pada 2016 dan Xisco Munoz di Watford pada 2021.
Pola itu menegaskan bahwa jeda internasional bukan momen favorit klub untuk mengganti pelatih. November justru lebih rawan, dengan enam pelatih diganti dalam sepuluh tahun terakhir. Perlu dicatat pula bahwa dalam sepuluh musim terakhir, sudah ada sembilan pelatih yang lebih dulu hengkang ketika jeda internasional kedua tiba, yaitu fase yang setara dengan jumlah pertandingan saat ini.
Pandangan Tony Pulis soal Jeda Internasional
Mantan manajer Stoke, West Brom, dan Middlesbrough, Tony Pulis, menjelaskan mengapa jeda bisa memperbesar tekanan bagi seorang pelatih. Menurutnya, ada tiga titik kritis dalam satu musim, yaitu jeda internasional Oktober atau November, masa setelah periode Natal, dan awal Maret. Ketiganya menjadi momen ketika klub yang hasilnya buruk mulai berhitung ulang.
Ia menilai alasan pemecatan sering dijatuhkan tepat pada jeda sangat mudah dipahami. Klub punya kesempatan menunjuk manajer baru dengan waktu yang cukup untuk beradaptasi, mengenali lingkungan dan staf, serta menyiapkan diri untuk laga pertamanya. Setelah periode Natal, biasanya laga pertama adalah pertandingan Piala FA, yang juga memberi kesempatan bagi pelatih baru melihat langsung kualitas pemainnya.
Pulis mengaku pernah beberapa kali bergabung dengan klub di tengah musim, dan juga pernah meninggalkan klub dalam situasi sebaliknya. Namun ia yakin jeda internasional memang memperbesar peluang pelatih yang tertekan untuk kehilangan pekerjaan. Ia tidak melihat jeda September sebagai lampu merah karena musim masih terlalu dini, tetapi setelah itu ia menilai tanggal-tanggal yang disebutnya benar-benar berperan.
Menariknya, Pulis juga menyebut jeda awal musim ini tidak membantu siapa pun. Tim yang sedang menang ingin terus bermain, sementara tim yang mulai buruk justru butuh lebih banyak waktu untuk membenahi diri. Perjalanan pemain antarbenua dan risiko cedera di awal musim dinilainya sebagai hal yang kurang masuk akal.
Manajer yang Berada di Bawah Tekanan
Meski bukti menunjukkan bahwa klub perlu dalam kondisi sangat buruk untuk mengganti pelatih di awal musim, sejumlah nama tetap merasakan panasnya kursi. Berikut gambaran situasi mereka berdasarkan pemberitaan yang ada.
Manchester United
Laga tandang ke Fulham tidak dilihat sebagai penentu hidup dan mati karier Carrick. Ia dinilai memiliki cukup kredit dari musim lalu, terutama karena berhasil membawa United ke Liga Champions sehingga masih punya ruang untuk melewati awal musim yang buruk. Masalahnya, United selalu menghasilkan perdebatan besar, sehingga kekalahan di Craven Cottage akan memicu banyak penyelidikan eksternal.
Kekalahan itu sendiri akan terasa bersejarah karena akan menjadi yang pertama di markas Fulham sejak 2009. Apalagi Fulham hanya mengumpulkan satu poin dan berada di dasar klasemen. Sorotan terhadap klub pun diprediksi makin tajam ketika mereka melanjutkan kompetisi melawan Tottenham pada 10 Oktober.
Fulham
Seberapa besar bahaya yang mengancam Arbeloa memang belum jelas, tetapi laporan tentang ketidakpuasan sebagian pemain di awal musim tampaknya punya dasar. Perubahan taktik yang cukup signifikan setelah ia menggantikan Marco Silva, yang menghabiskan lima tahun di Craven Cottage, membuat Fulham rentan di lini belakang. Meski demikian, ada perbaikan dengan hasil imbang tanpa gol di markas Liverpool pada akhir pekan lalu.
Yang perlu diingat, pemilik klub Shahid Khan pernah menunjukkan sikap tegas dalam urusan pelatih. Claudio Ranieri hanya bertahan 106 hari, sementara Felix Magath dipecat pada September 2014 meski baru ditunjuk pada musim sebelumnya.
Tottenham
Hasil Tottenham justru makin memburuk. Setelah menghabiskan sekitar 300 juta poundsterling untuk pemain baru pada musim panas, klub hanya mendapat sedikit sekali poin dan gol dari investasi itu. Namun tidak ada tanda-tanda Roberto De Zerbi berada di bawah tekanan meski timnya belum menang dari lima laga.
Suasana di sekitar klub dinilai positif karena cara bermain tim mulai terbentuk, dengan keyakinan bahwa hanya soal waktu sebelum segalanya berjalan sesuai rencana. Bagi Tottenham, waktu itu tentu harus datang cepat, bukan nanti.
Crystal Palace
Pierre Sage menjalani awal yang naik turun sejak menangani Palace. Satu kemenangan liga sejauh ini belum diterima dengan baik secara internal, begitu pula pertahanan yang mudah kebobolan sejak kedatangannya dari Lens. Namun ada kelonggaran karena absennya duet penyerang utama, Ismaila Sarr dan Jean-Philippe Mateta, untuk berbagai alasan.
Kemenangan 4-0 atas Lech Poznan di Liga Europa pada hari Kamis sedikit meredakan tekanan. Sebaliknya, kekalahan di markas Leeds akan datang pada waktu yang paling tidak menguntungkan bagi Sage.
Burnley dan Derby
Nicky Hayen meninggalkan Genk untuk memimpin upaya Burnley kembali ke Liga Premier dalam sekali jalan. The Clarets memulai musim sebagai favorit ketiga untuk promosi di belakang West Ham dan Wolves, tetapi belum menang dalam delapan pertandingan pertama.
Dalam konferensi pers sebelum laga pada Jumat, pelatih asal Belgia itu menghadapi pertanyaan soal masa depannya. Hayen mengakui sedang berada di bawah tekanan dan menyebut laga Sabtu melawan sesama tim yang lambat panas, Derby, sebagai pertandingan yang wajib dimenangkan. Namun hasilnya mengecewakan, yaitu imbang 1-1 setelah Derby menyamakan kedudukan di masa tambahan waktu, dan Burnley pun terpuruk di dasar klasemen menjelang jeda.
Manajer Derby, John Eustace, yang hampir membawa klub ke play-off musim lalu, juga tidak aman karena timnya berada di zona degradasi. Dewan Burnley kini mungkin sedang menilai opsi yang tersedia.
Watford
Manajer Watford tidak pernah bisa tenang di kursinya. Alessio Dionisi, yang ditunjuk pada musim panas, menjadi manajer permanen ke-27 klub itu dalam waktu kurang dari 18 tahun. Kekalahan di markas Bristol City pada Jumat membuat The Hornets baru mengumpulkan dua kemenangan dari delapan laga liga pertama di bawah pelatih asal Italia yang sebelumnya menangani Empoli tersebut.
Berada di posisi ke-19 klasemen dan hanya tiga poin di atas zona degradasi, bukan hal mengejutkan jika pemilik klub, Gino Pozzo, memutuskan melakukan perubahan lebih awal.
Apa yang Mungkin Terjadi Setelah Jeda
Pola historis menunjukkan bahwa perubahan pelatih lebih mungkin terjadi setelah jeda, bukan selama jeda itu sendiri. Klub cenderung menunggu sampai rangkaian hasil benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi sebelum mengambil keputusan besar. Karena itu, meski tekanan terasa nyata sekarang, belum tentu ada nama yang benar-benar kehilangan pekerjaan dalam tiga pekan ke depan.
Namun ada satu faktor yang membuat situasi musim ini berbeda, yaitu durasi jeda yang lebih panjang dan posisinya yang lebih dalam di musim. Semakin banyak pertandingan yang sudah dimainkan, semakin jelas gambaran performa sebuah tim, dan semakin sulit bagi pelatih untuk beralasan bahwa semuanya masih proses adaptasi.
Selain itu, tenggat berikutnya sudah terlihat di depan mata. United akan menghadapi Tottenham pada 10 Oktober, sementara sejumlah klub lain akan memasuki periode yang oleh pelatih berpengalaman disebut sebagai titik kritis. Jeda internasional kali ini mungkin belum menjadi pemutus, tetapi ia berfungsi seperti rapat evaluasi panjang yang hasilnya akan terasa dalam beberapa pekan berikutnya.
Pada akhirnya, jeda internasional tiga pekan ini adalah ujian kesabaran bagi klub maupun pelatih. Bagi Arbeloa dan Carrick, laga di Craven Cottage menjadi penentu seberapa besar tekanan yang harus mereka bawa melewati masa kosong kompetisi. Bagi klub-klub lain di bagian bawah klasemen, periode ini adalah kesempatan menghitung ulang sebelum keputusan yang lebih keras diambil ketika kompetisi kembali bergulir.
