Leeds United kembali mencuri perhatian di panggung Premier League. Kemenangan 4-1 atas Newcastle United di Elland Road pada Senin malam membuat tim asuhan Daniel Farke masih belum terkalahkan dan kini bertengger di posisi ketiga klasemen sementara. Dengan delapan poin dari empat pertandingan, kebangkitan Leeds United ini tercatat sebagai start terbaik mereka di kompetisi kasta tertinggi sejak musim 2001-02 di bawah asuhan David O’Leary.
Pencapaian tersebut terasa seperti kilas balik ke awal abad ke-21, ketika Leeds rutin mengakhiri musim di lima besar selama lima tahun berturut-turut. Meski begitu, performa apik ini bukan hasil instan. Fondasinya sudah dibangun sejak hampir sembilan bulan lalu, lewat satu keputusan berani Farke mengubah bentuk formasi timnya di tengah pertandingan. Perubahan itulah yang kemudian menjadi titik balik perjalanan klub asal Yorkshire tersebut.
Leeds United di Posisi Ketiga dengan Start Terbaik Sejak 2001-02
Dalam klasemen awal musim yang masih belum sepenuhnya stabil, keberadaan Leeds di posisi ketiga menjadi pemandangan yang jarang terlihat dalam dua dekade terakhir. Tim ini belum merasakan kekalahan dan mengumpulkan delapan poin, hasil yang menempatkan mereka sejajar dengan kandidat-kandidat kuat lain di papan atas. Bagi klub yang sempat lama berjuang di divisi bawah, posisi tersebut punya arti emosional tersendiri bagi para pendukungnya.
Start terbaik sejak 2001-02 itu menunjukkan bahwa Leeds tidak sekadar beruntung dalam beberapa laga awal. Statistik dan performa di lapangan memperlihatkan sebuah pola permainan yang sudah matang, bukan hasil kebetulan semata. Karena itu, muncul pertanyaan yang lebih jauh: seberapa jauh tim ini bisa melaju, dan apakah mereka mampu menantang tiket kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 24 tahun?
Sebenarnya, penampilan bagus Leeds sudah terlihat jauh sebelum rangkaian pertandingan musim ini dimulai. Jejaknya bisa dilacak kembali ke sebuah perubahan strategi besar yang dilakukan Farke sekitar sembilan bulan lalu. Sejak saat itu, arah permainan tim berubah cukup signifikan dan dampaknya masih terasa hingga sekarang.
Kronologi Perubahan Formasi Daniel Farke
Titik balik itu terjadi ketika Leeds menghadapi Manchester City di Etihad Stadium pada 29 November. Dalam laga tersebut, Farke mengubah formasi dari empat bek menjadi tiga bek saat turun minum, ketika timnya tertinggal 2-0. Keputusan itu nyaris membuahkan hasil dramatis karena Leeds berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2, sebelum akhirnya kebobolan lagi di masa injury time.
Meski kalah, perubahan tersebut memberi sinyal bahwa Farke menemukan bentuk yang lebih cocok untuk skuadnya. Dimulai dari kemenangan kandang atas Chelsea pada 3 Desember, Leeds hanya menelan lima kekalahan dari 29 pertandingan liga berikutnya. Jika hasil-hasil itu disusun menjadi tabel tersendiri untuk periode tersebut, mereka akan berada di peringkat kelima.
Sebelum perubahan itu terjadi, situasinya jauh lebih suram. Leeds kalah delapan kali dari 13 laga liga pertama pada musim 2025-26 dan terpuruk di posisi ke-18, sehingga ancaman degradasi menjadi sangat nyata. Laporan-laporan saat itu bahkan menyebut posisi Farke sebagai pelatih berada dalam bahaya besar, padahal musim sebelumnya ia baru saja membawa Leeds menyalip Burnley untuk menjuarai Championship.
Perubahan formasinya jelas membawa perbaikan besar di lini pertahanan. Di antara klub-klub yang selalu tampil di divisi teratas, hanya juara bertahan Arsenal, Manchester City, dan Nottingham Forest yang kebobolan lebih sedikit daripada Leeds sejak pergantian sistem tersebut diterapkan.
Rekrutmen Pemain Bertubuh Tinggi dan Strategi Adam Underwood
Perubahan taktik itu tidak berdiri sendiri. Pada jendela transfer musim panas 2025, Farke bersama sporting director baru klub, Adam Underwood, secara sengaja mendatangkan para pemain bertubuh tinggi yang dinilai mampu menambah kekuatan fisik skuad. Langkah tersebut diambil untuk menjawab tuntutan keras kompetisi di kasta tertinggi Inggris.
Dari sepuluh pemain yang datang secara permanen, delapan di antaranya berpostur lebih dari 6 kaki atau sekitar 183 cm. Kedelapan nama itu adalah Jaka Bijol, Sebastiaan Bornauw, Dominic Calvert-Lewin, James Justin, Lukas Nmecha, Noah Okafor, Lucas Perri, dan Anton Stach.
Pada Juli 2025, Farke mengungkapkan alasan di balik pendekatan tersebut. Menurutnya, bukan kebetulan bahwa para pemain baru itu bertubuh tinggi, karena bermain di Premier League dengan skuad yang tergolong kecil membuat tekanan menjadi lebih besar dibandingkan saat masih di Championship. Ia menekankan pentingnya kemampuan bertahan menghadapi umpan silang.
Musim panas ini, setelah kehilangan bek tengah Pascal Struijk ke Brighton, Farke kembali bergerak dengan mendatangkan dua pemain Piala Dunia, yakni Tarik Muharemovic dari Bosnia-Herzegovina dan Nico Elvedi dari Swiss. Muharemovic tampil cukup mengesankan dan bermain di setiap menit laga liga di depan kiper timnas Inggris setinggi 196 cm, James Trafford, yang bergabung dari Manchester City dengan nilai awal 40 juta poundsterling. Kedatangan Trafford menjadikannya kiper Britania termahal sepanjang sejarah untuk kedua kalinya, dan Leeds juga merekrut Harry Wilson secara gratis dari Fulham setelah gelandang itu tampil menonjol musim lalu.
Dominic Calvert-Lewin dan Efek Bermain dengan Dua Penyerang
Pihak yang paling merasakan manfaat dari perubahan formasi adalah Dominic Calvert-Lewin. Sejak Desember lalu, hanya Erling Haaland, Ollie Watkins, dan Joao Pedro yang mencetak lebih banyak gol di kompetisi liga daripada 14 gol milik penyerang tersebut. Angka itu menegaskan bahwa ia kini kembali menjadi ujung tombak yang produktif.
Sebelumnya, Calvert-Lewin harus bekerja keras sebagai satu-satunya penyerang tengah dalam formasi 4-3-3, dengan dukungan dari sisi sayap yang jarang datang. Kini ia berkembang bersama seorang mitra serang tetap, biasanya Nmecha atau Okafor, yang mencatatkan tujuh gol dan satu assist dalam 11 penampilan liga terakhirnya. Meskipun Farke masih bergantian antara 3-4-3 dan 3-5-2, Calvert-Lewin sendiri mengaku menikmati bermain dengan banyak pemain di sekitarnya.
Menjelang laga melawan Crystal Palace di Elland Road pada Sabtu, Calvert-Lewin berpeluang menjadi pemain Leeds pertama yang mencetak gol dalam enam pertandingan kandang liga secara berurutan sejak Arthur Hydes pada 1932. Mantan penyerang Everton itu memang absen dari skuad Piala Dunia Inggris, tetapi dengan tiga gol di semua kompetisi musim ini, peluangnya untuk dipanggil kembali pada Jumat tetap terbuka lebar. Panggilan itu akan sangat berarti karena Thomas Tuchel sedang menyiapkan tim untuk empat laga Nations League.
Elland Road, Benteng yang Sulit Ditaklukkan
Elland Road bergemuruh pada Senin malam ketika hampir seluruh dari 36.693 penonton yang hadir menyaksikan penampilan impresif Leeds. Stadion bersejarah itu memang dikenal angker, terutama untuk pertandingan yang digelar pada malam hari. Sebelum kekalahan beruntun dari Manchester City dan Sunderland pada Februari, Leeds sempat melewati 25 laga malam di kompetisi liga dan play-off tanpa kekalahan di kandang, dengan rincian 20 kemenangan dan lima hasil imbang.
Kemenangan telak atas Newcastle membuat pelatih baru mereka, Matthias Jaissle, menjadi nama terbaru yang “dihukum” dalam lelucon internet buatan penggemar Leeds, Daniel Farke Penitentiary. Meme tersebut menggambarkan setiap pelatih yang kalah dari Farke seolah dijatuhi hukuman di penjara fiktif, dan kembali membanjiri media sosial setelah laga berakhir.
Farke sendiri menikmati sorakan dukungan dari para pendukung saat pertandingan usai. Ia dengan tepat meremehkan pembicaraan awal soal peluang lolos ke kompetisi Eropa, namun jika performa seperti ini berlanjut, para penggemar di Elland Road tentu berhak memimpikan kembalinya malam-malam Liga Champions yang terkenal seperempat abad silam.
Peluang Eropa dan Langkah Leeds United Berikutnya
Dengan fondasi taktik yang sudah terbentuk dan kedalaman skuad yang lebih baik, pertanyaan soal tiket Eropa menjadi relevan meski kompetisi baru berjalan empat pekan. Leeds terakhir kali tampil di kompetisi Eropa 24 tahun lalu, sehingga capaian itu akan menjadi pencapaian besar bila terwujud. Namun jalan menuju ke sana masih panjang dan kompetisi Premier League dikenal kejam terhadap tim yang kehilangan konsistensi.
Tren yang dipilih Leeds sejalan dengan arah umum sepak bola Inggris, di mana kekuatan fisik dan kemampuan bertahan dalam duel udara semakin menentukan hasil pertandingan. Farke menyadari betul bahwa tuntutan di kasta tertinggi jauh berbeda dari Championship, terutama dalam hal menjaga lini pertahanan saat menghadapi umpan silang dan bola-bola panjang. Karena itu, perpaduan antara pemain bertubuh tinggi dan fleksibilitas formasi menjadi identitas baru tim ini.
Menghadapi Crystal Palace di kandang sendiri pada Sabtu menjadi ujian berikutnya untuk membuktikan bahwa momentum ini bukan sekadar kebetulan. Selain itu, pemanggilan skuad timnas Inggris pada Jumat akan menjadi indikator tambahan seberapa dihargai performa para pemain Leeds saat ini. Setiap hasil positif akan memperkuat keyakinan bahwa klub ini benar-benar berada di jalur pemulihan yang tepat.
Kebangkitan Leeds United tidak lahir dalam semalam. Perubahan formasi yang dilakukan Daniel Farke pada 29 November, perekrutan pemain bertubuh tinggi bersama Adam Underwood, dan kepercayaan pada kerja sama dua penyerang menjadi tiga pilar utama yang mengangkat tim ini ke posisi ketiga dengan start terbaik sejak 2001-02.
Yang tersisa sekarang adalah konsistensi. Jika Leeds mampu mempertahankan pola permainannya dan menghindari badai cedera, impian bermain di kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 24 tahun bukan lagi sekadar angan-angan bagi para pendukung di Elland Road.
