Kebangkitan Manchester United Women menjadi sorotan menjelang derbi melawan pemuncak Women’s Super League (WSL), Manchester City, pada Minggu (18.00 GMT). Tim asuhan Eva Olid kini datang dengan enam kemenangan beruntun di semua kompetisi. Situasi itu jauh berbeda dari sebulan lalu, ketika United belum meraih satu pun kemenangan dan kepercayaan diri sedang rendah.
Perubahan tersebut penting karena United sempat tertahan di awal musim dan baru meraih kemenangan pertama atas Sheffield United di Piala Liga Wanita. Setelah itu, mereka memenangi enam laga berturut-turut dan kini menempati peringkat kelima, delapan poin di belakang City yang belum terkalahkan. Derbi akhir pekan ini pun menjadi ujian untuk melihat apakah tren positif mereka benar-benar kokoh.
Enam kemenangan beruntun mengubah posisi United
Rangkaian hasil positif itu membuat United naik ke peringkat kelima. Mereka mengumpulkan enam kemenangan beruntun di semua kompetisi setelah kemenangan pertama di Piala Liga Wanita. Modal tersebut membuat tim lebih percaya diri menjelang derbi melawan City, pemimpin klasemen yang masih belum terkalahkan.
Sebelum tren ini, United sempat berada dalam kondisi sulit. Tiga pertandingan pembuka berjalan tanpa kemenangan dan meninggalkan dampak pada kepercayaan diri pemain. Kemenangan atas Sheffield United di Piala Liga Wanita menjadi pemicu awal sebelum rentetan enam kemenangan di semua kompetisi tercipta.
Saat ini United berada di peringkat kelima dan tertinggal delapan poin dari City. Jarak itu menunjukkan bahwa perbaikan bentuk belum sepenuhnya mengangkat mereka ke persaingan puncak. Meski demikian, derbi menjadi kesempatan untuk mengukur sejauh mana kebangkitan Manchester United Women berjalan.
Kembali ke pola lama sambil menyesuaikan gaya baru
Perubahan paling terlihat terjadi di lapangan. Olid, yang bergabung pada musim panas, menilai timnya perlu kembali ke kebiasaan lama agar tidak kehilangan identitas. Gaya baru yang menuntut penguasaan bola banyak, pola menyerang, dan permainan berisiko tinggi belum sepenuhnya bisa dijalankan sejak awal.
Hal itu terlihat saat United kalah dari London City Lionesses dan Chelsea. Pada kedua laga tersebut, mereka hanya mencatat dua tembakan tepat sasaran dan penguasaan bola kurang dari 40 persen. Olid merasa pemain berusaha melakukan terlalu banyak sehingga kekuatan utama mereka, termasuk organisasi pertahanan, ikut kabur.
Sebelum laga melawan Arsenal, Olid meminta pemain mempertahankan hal-hal yang sudah menjadi kekuatan mereka. Ia ingin gaya baru diterapkan perlahan sambil mencari keseimbangan, bukan dipaksakan sepenuhnya dalam waktu singkat. “Hal-hal yang sudah bagus sebelumnya harus tetap dipertahankan, sambil sedikit demi sedikit menerapkan gaya baru. Kami berusaha menemukan keseimbangan. Mungkin mereka mengira saya menuntut semuanya langsung terjadi di laga pertama, padahal itu tidak mungkin. Butuh waktu,” kata Olid. Hasil imbang 1-1 di Emirates Stadium kemudian menjadi titik awal perubahan yang lebih stabil.
Perubahan di luar lapangan dan dialog jujur
Perubahan terbesar mungkin tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di ruang ganti. Olid menyebut timnya melewati masa transisi dan terlibat dalam diskusi besar setelah kekalahan 5-0 dari Chelsea. Dari situ, pemain dan pelatih perlu mencari solusi bersama untuk membangun kembali kepercayaan diri.
Olid menuturkan dua laga pertama menjadi pelajaran untuk saling terhubung sebagai tim. Pemain juga mulai memahami apa yang dibutuhkan pelatih, begitu pula sebaliknya. “Saya merasa sekarang kami sudah terhubung. Bukan berarti kami tidak akan punya hari buruk lagi, tetapi kami sudah punya pemahaman satu sama lain,” ujarnya.
Percakapan jujur itu berdampak pada individu. Wakil kapten Ella Toone absen dari seleksi Inggris untuk pertama kali di era Sarina Wiegman, lalu membalas dengan gol dalam kemenangan 3-1 atas Charlton Athletic pada Minggu. Andrea Medina, rekrutan musim panas, juga tumbuh menjadi bagian penting dalam skuad.
Dampak bagi pemain dan persiapan derbi
Jeda internasional memberi Olid waktu untuk menata ulang perannya sebagai pelatih. Ia bisa merefleksikan apa yang perlu diubah dan menghabiskan waktu di lapangan latihan. Kapten United sekaligus bek Inggris, Maya le Tissier, termasuk pemain yang kembali dengan energi baru setelah tampil impresif bagi negaranya.
Susunan staf pendukung juga semakin jelas. Jose Herrera, sesama orang Spanyol, masuk sebagai asisten pelatih bersama Gavin Beith yang pernah bekerja dengan Olid di Hearts. Dengan struktur yang lebih rapi, Olid berharap kelompok kerja barunya bisa membawa United menuju kesuksesan.
Olid menilai jeda tersebut seperti awal baru. Ia ingin mempertahankan energi baik dari laga-laga sebelumnya sambil mereset beberapa hal yang perlu diperbaiki. “Bagi saya jeda ini luar biasa. Rasanya seperti awal baru. Kami mempertahankan energi baik dari pertandingan terakhir, tetapi juga memulai lagi dengan cara yang segar,” katanya.
Ujian sesungguhnya melawan Manchester City
Derbi melawan City akan menjadi tolok ukur yang lebih berat bagi United. City memimpin klasemen WSL dan masih belum terkalahkan, sementara United berusaha memperpanjang momentum. Laga pada Minggu pukul 18.00 GMT ini akan menunjukkan apakah perbaikan mereka mampu bertahan melawan tim papan atas.
Olid melihat derbi sebagai sumber motivasi tambahan. Ia menilai pemain selalu termotivasi sebelum laga besar, tetapi menghadapi City membutuhkan dorongan lebih. “Ini derbi. Saya pikir para pemain selalu termotivasi, tetapi melawan City harus ada sesuatu yang lebih, bukan?” ujarnya kepada BBC.
Secara lebih luas, kebangkitan Manchester United Women menunjukkan bahwa perubahan gaya membutuhkan waktu dan keseimbangan. Kembali ke kekuatan lama bukan berarti menolak ide baru, melainkan memberi fondasi agar ide itu bisa diterapkan. Jika United mampu bersaing melawan City, tren positif ini bisa menjadi titik balik yang lebih bermakna.
Perbaikan United tidak datang dari satu faktor tunggal. Kembalinya organisasi pertahanan, dialog jujur di ruang ganti, peran pemain seperti Toone dan Medina, serta penataan staf membuat tim lebih stabil. Enam kemenangan beruntun menjadi bukti bahwa proses itu mulai berjalan.
Namun, derbi melawan City akan memberi jawaban yang lebih jelas. Jika United mampu tampil kompetitif, kebangkitan Manchester United Women akan terasa lebih dari sekadar rentetan hasil atas lawan-lawan yang lebih mudah. Sebaliknya, laga ini juga mengingatkan bahwa perjalanan mereka masih panjang.
