Inggris hanya berjarak satu langkah dari final Piala Dunia 2026 setelah Anthony Gordon mencetak gol ke gawang Argentina di Atlanta. Namun, dalam waktu tujuh menit, mimpi itu hancur. Keputusan kontroversial Thomas Tuchel menarik Gordon dan memasukkan Ezri Konsa menjadi awal dari bencana yang mengingatkan pada kegagalan Inggris di turnamen-turnamen sebelumnya.
Substitusi Ezri Konsa dan Perubahan Taktik yang Berakibat Fatal
Pada menit ke-67, saat Inggris unggul 1-0, Tuchel memutuskan mengganti Gordon dengan Konsa. Tujuannya jelas: mengamankan keunggulan dengan beralih ke formasi lima bek. Namun, langkah ini justru mengunci kreativitas tim sendiri.
Setelah pergantian tersebut, penguasaan bola Inggris anjlok drastis. Dalam 21 menit, Three Lions hanya mencatat 7,2 persen kepemilikan bola, delapan sentuhan di area lawan, dan tidak satu pun umpan silang. Argentina, yang memiliki pemain terbaik dunia Lionel Messi, segera mengambil alih kendali.

Dampak Hilangnya Gordon sebagai Opsi Serangan Balik
Gordon bukan sekadar pemain sayap; ia adalah ancaman paling nyata Inggris dalam serangan balik. Tanpa dia, Tuchel kehilangan satu-satunya pemain depan yang fit di luar Jude Bellingham dan Harry Kane. Rogers, yang kini bermain di belakang Kane dan Bellingham, hanya menyentuh bola sekali antara perubahan formasi hingga gol balasan Argentina.
Bek sayap Djed Spence dan Reece James juga tidak mampu membantu. Keduanya hanya menyentuh bola sekali di area Argentina selama sisa pertandingan. Pertahanan berlapis yang diharapkan justru membuat Inggris semakin tertekan.
Pola Lama yang Kembali Terulang
Kegagalan Inggris setelah unggul pertama bukanlah hal baru. Dalam 30 tahun terakhir, Inggris telah mencetak gol lebih dulu di tujuh dari 13 pertandingan knockout yang akhirnya mereka kalah. Di Piala Dunia, mereka menjadi satu-satunya tim abad ini yang memimpin di semifinal namun gagal melaju ke final – dan kini melakukannya dua kali.
Gaya bertahan saat unggul yang dikritik pada era Gareth Southgate kembali muncul. Tuchel pernah mengecam pendekatan Southgate di Euro 2024, mengatakan tim “lebih takut tersingkir daripada lapar meraih kemenangan.” Ironisnya, ia jatuh ke lubang yang sama.
Pengakuan Tuchel dan Kritik yang Muncul
Usai laga, Tuchel mengakui, “Kami terlalu pasif setelah mencetak gol.” Ia juga sebelumnya menyebut Inggris di Euro 2024 terlalu defensif. Kini, tindakannya sendiri menuai kecaman.
Kapten Harry Kane, meski enggan mengkritik pelatih secara langsung, menyindir, “Di level ini, bertahan saja tidak cukup.” Marcus Rashford dan Ivan Toney hanya diberi waktu empat menit setelah Argentina membalikkan keadaan, sementara Bukayo Saka dan Ollie Watkins bahkan tidak dimainkan.
Keputusan Tuchel untuk memasukkan Dan Burn dan Nico O’Reilly alih-alih pemain depan menunjukkan ia “membeku” seperti anak asuhnya. Padahal, di laga sebelumnya melawan Norwegia, ia berani mengubah taktik saat Bellingham tidak efektif.
Pelajaran untuk Masa Depan
Kegagalan Inggris di Piala Dunia 2026 ini menyoroti kelemahan fundamental: ketidakmampuan mengelola keunggulan di panggung besar. Tuchel dipekerjakan untuk membawa perubahan, namun hasilnya masih sama seperti era Southgate: menang atas tim yang seharusnya dikalahkan, lalu kalah saat di atas angin.
Meski Tuchel berkomitmen melanjutkan kontrak hingga Euro 2028, luka di Atlanta akan membekas. Keputusan satu dadu yang salah dan kembali ke pola bertahan yang ingin ia hapus justru menghantuinya.
Untuk Inggris, pertanyaan besarnya tetap sama: kapan mereka akan belajar dari kesalahan berulang ini? Tanpa perubahan mentalitas dan keberanian taktik, mimpi membawa pulang trofi akan terus tertunda.