Kegagalan Rangers di Liga Conference musim ini menjadi salah satu malam paling memalukan dalam perjalanan klub di kompetisi Eropa. Derek McInnes harus menanggung malu setelah timnya tampil tanpa daya dan kalah dari Jablonec pada babak playoff, dengan hanya satu tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan. Dalam konferensi pers usai laga, manajer asal Skotlandia itu berulang kali mengucapkan kata “malu” dan “terhina” untuk menggambarkan performa anak asuhnya.
Kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk yang bisa dilupakan begitu saja, melainkan cerminan masalah besar yang sedang menggerogoti tubuh Rangers. Para pemain terlihat kehilangan arah, tidak kompak, dan sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk menang. Yang lebih menyakitkan, para pendukung yang hadir di stadion Jablonec meluapkan kemarahan mereka dengan keras, dan permintaan maaf McInnes tidak cukup untuk meredam amarah tersebut.
Kegagalan Rangers di Liga Conference yang Memalukan
Bermain di Republik Ceko, Rangers seperti kehilangan akal sehat. Mereka berjalan tanpa arah, kalah dalam duel, dan tidak pernah menunjukkan kecerdasan dalam membangun serangan. Sepanjang malam, hanya satu tembakan ke gawang yang mereka lepaskan, dan dalam 210 menit laga agregat, cuma satu gol yang mampu diciptakan.
McInnes mengubah formasi timnya empat hingga lima kali, tetapi kemiskinan permainan tidak berubah sedikit pun. Ia mencoba menjelaskan bahwa timnya sedang tidak nyaman dengan berbagai gaya bermain: tidak hebat dalam penguasaan bola, tidak efektif dalam serangan balik, dan tidak senang bermain langsung. “Tim harus menjadi sesuatu,” ujarnya, sebuah pengakuan jujur bahwa ia belum menemukan identitas timnya.
Kekalahan ini juga memunculkan perbandingan dengan era Russell Martin di Rangers. Ketika ditanya apakah ada satu atau dua hal yang membaik di bawah kepemimpinannya, Martin tidak mampu menjawab. Jika pertanyaan serupa diajukan kepada McInnes saat ini, belum tentu ia bisa memberikan jawaban yang meyakinkan.
Krisis Identitas: Sebenarnya Tim Seperti Apa Rangers?
Pertanyaan mendasar yang kini menggantung di Ibrox adalah identitas Rangers di bawah McInnes. Belum ada yang tahu tim seperti apa yang sedang dibangun, dan McInnes sendiri tampaknya ikut bingung. Indikatornya jelas: ia sudah melakukan 11 pergantian pemain di babak pertama hanya dalam tujuh pertandingan, termasuk tiga pergantian sekaligus saat jeda melawan Jablonec.
Angka tersebut mengungkapkan tiga kemungkinan besar:
- McInnes salah menentukan susunan pemain sejak awal;
- ia gagal menyampaikan instruksinya kepada para starter;
- atau ruang ganti Rangers tidak mampu menyerap apa yang ia sampaikan.
Apa pun penyebabnya, situasi ini jauh dari kata sehat. Jika seorang manajer harus memperbaiki setengah timnya setiap jeda pertandingan, itu pertanda ada yang salah secara fundamental. Padahal, McInnes telah menjalani pramusim penuh, enam pertandingan, dan satu pekan jeda untuk mempersiapkan timnya, tetapi hasilnya justru performa terburuk musim ini.
Perbandingan dengan Hearts membuat situasi semakin perih. Sehari sebelum laga, McInnes menyaksikan Hearts di televisi menurunkan empat pemain anyar sebagai starter melawan Rapid Vienna dan menggunakan dua pemain lain dari bangku cadangan. Wouter Vrancken mampu membentuk tim tersebut menjadi lawan tangguh dan memenangkan laga Liga Conference di Austria dalam waktu singkat.
Keputusan Aneh: Raskin Ditinggal di Rumah
Salah satu keputusan McInnes yang paling membingungkan adalah meninggalkan Nico Raskin di Glasgow. McInnes menjelaskan bahwa Raskin tidak dibawa bukan karena sudah ada tawaran untuk pemain asal Belgia itu, melainkan karena kemungkinan akan datang tawaran. Jika memang belum ada tawaran, mengapa pemain yang tampil impresif di Piala Dunia itu tidak dibawa serta?
McInnes juga mengeluhkan timnya yang terlihat muda dan kurang pengalaman saat menghadapi Jablonec. Padahal, ia baru saja mengumumkan perekrutan pemain sayap berusia 20 tahun dan sedang mengejar striker berusia 22 tahun. Jika kebutuhan utama adalah pemain berpengalaman, maka kebijakan transfer ini terkesan kontradiktif.
Klaim McInnes bahwa staf kepelatihannya “elit dalam segala hal” pun terasa berlebihan setelah kekalahan telak ini. Enam dari sebelas starter adalah rekrutan McInnes, ditambah dua pemain pengganti. Ia memang mengambil tanggung jawab atas kegagalan ini, tetapi ia juga berulang kali menyalahkan kualitas para pemainnya sendiri.
Kontras Mencolok dengan Klub Kecil Jablonec
Sejak McInnes ditunjuk pada Juni lalu, Rangers sudah merekrut 12 pemain. Nilai transfer para pemain yang tampil di Republik Ceko mencapai sekitar 30 juta poundsterling, dan tagihan gaji di Ibrox tentu sangat besar. Klub bahkan baru saja menambah winger Kim Min-su seharga 8,5 juta poundsterling serta berpotensi mendatangkan striker Kevin Kelsy dengan banderol 9,5 juta poundsterling.
Bandingkan dengan Jablonec yang rekor transfer termahalnya hanya sekitar 700 ribu poundsterling. Omzet klub Ceko itu berada di angka 8,5 juta poundsterling, sementara Rangers mencapai 94 juta poundsterling. Stadion mereka mungil, pendukung mereka sedikit, dan kisah Eropa mereka nyaris tidak ada.
Namun di lapangan, Jablonec-lah yang tampil lebih hidup. Mereka mungkin kalah dalam kualitas individu, tetapi mereka unggul dalam semangat dan karakter. Jablonec mengalahkan Rangers dalam segala hal yang tidak membutuhkan bakat, hanya kejujuran dan kerja keras.
Kemarahan Fans dan Ujian Panas di Pittodrie
Sebelum laga, sebagian pendukung Rangers sempat menganggap remeh Liga Conference dan berpikir tersingkir bukanlah masalah besar. Namun kenyataannya, kekalahan ini memicu kemarahan yang luar biasa. Tidak ada satu pun pendukung yang menerima kekalahan ini dengan bahu dingin, dan McInnes disarankan menjauhi media sosial untuk sementara waktu.
Kini McInnes berada dalam posisi yang sulit, meskipun belum terancam kehilangan pekerjaan. Ia harus bekerja keras untuk merebut kembali kepercayaan para pendukung yang kecewa, dan itu hanya bisa dilakukan lewat hasil positif. Langkah pertama yang harus ia lakukan adalah memenangkan laga tandang melawan Aberdeen di Pittodrie pada akhir pekan, tempat yang dikenal sebagai “sarang beruang” bagi tim tamu.
Kemenangan di Pittodrie akan menjadi obat penawar yang sangat dibutuhkan setelah mimpi buruk di Jablonec. Sebaliknya, jika kembali gagal, tekanan terhadap McInnes akan semakin besar. Waktu terus berjalan, dan pembicaraan tanpa hasil tidak akan bertahan lama di Ibrox.
Kegagalan Rangers di Liga Conference menunjukkan bahwa mengeluarkan uang besar tidak otomatis membangun tim yang solid. McInnes harus segera menemukan identitas dan gaya bermain yang jelas sebelum segalanya semakin terlambat. Para pendukung sudah mulai kehilangan kesabaran, dan hanya hasil positif yang bisa mengubah suasana.
Laga melawan Aberdeen akan menjadi ujian karakter sekaligus pembuktian apakah McInnes mampu bangkit dari keterpurukan. Jika tidak, musim yang diharapkan menjadi awal kebangkitan justru bisa berubah menjadi mimpi buruk yang panjang. Semua mata kini tertuju pada Pittodrie, tempat di mana nasib McInnes perlahan mulai dipertanyakan.
