Klub Liga Inggris Tuntut Kompensasi Dakwaan Manchester City

Sejumlah klub Liga Primer Inggris dikabarkan mulai mencari nasihat hukum untuk mengajukan tuntutan kompensasi setelah Manchester City dinyatakan bersalah atas sebagian besar dari 115 dakwaan Manchester City terkait pelanggaran aturan keuangan. Kabar itu pertama kali dilaporkan The Athletic, yang menyebut 114 dari 115 dakwaan dinyatakan terbukti. Hingga kini, Liga Primer belum mengeluarkan pernyataan resmi maupun komentar apa pun, dan bentuk sanksi yang akan dijatuhkan kepada City juga belum diumumkan.

Perkembangan ini menyangkut dua hal besar sekaligus. Pertama, hukuman apa yang akhirnya menanti Manchester City, mulai dari pengurangan poin, denda besar, hingga kemungkinan dikeluarkan dari Liga Primer. Kedua, apakah klub-klub rival berhak menuntut ganti rugi atas dampak kompetitif yang mereka rasakan selama bertahun-tahun. BBC Sport melaporkan bahwa Manchester City akan mengajukan banding, sehingga perkara ini berpotensi berlarut-larut dan tetap membayangi jalannya kompetisi musim ini.

Manchester City

Putusan atas 115 Dakwaan Manchester City dan Respons Para Klub

Menurut laporan The Athletic, panel independen telah memutuskan bahwa mayoritas dakwaan terhadap Manchester City terbukti sah. Dari 115 dakwaan yang diajukan Liga Primer, 114 di antaranya dinyatakan diterima. BBC Sport menyatakan telah diberi tahu bahwa panel independen memang sudah menjatuhkan putusan dan sebagian besar dakwaan dikabulkan.

Dakwaan-dakwaan tersebut berpusat pada dugaan bahwa City menggelembungkan pendapatan sponsor dari perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan klub, sekaligus melakukan sejumlah pembayaran “di luar pembukuan” untuk menghindari aturan keuangan sepak bola. Skema semacam itu, jika terbukti, berpotensi memberi klub keunggulan finansial yang tidak dimiliki para pesaingnya. Karena itu, putusan ini disebut-sebut sebagai salah satu keputusan paling mengguncang dalam sejarah Liga Primer.

Sejumlah klub disebut sudah mengetahui isi keputusan panel independen tersebut secara resmi. Sumber BBC menyebut sekelompok terbatas direktur klub diberi informasi melalui surel dan diwajibkan menandatangani perjanjian kerahasiaan sebelum bisa membaca dokumennya. Belum diketahui kapan keputusan panel itu akan diumumkan secara resmi kepada publik.

Manchester City sendiri menolak berkomentar soal apakah mereka dinyatakan bersalah. Klub hanya menyampaikan pernyataan resmi bahwa proses Liga Primer masih berjalan dengan sejumlah elemen penting yang harus diselesaikan dan terikat aturan kerahasiaan ketat. City juga menegaskan telah menghormati proses hukum selama delapan tahun dengan asumsi bahwa dewan dan eksekutif Liga Primer bertindak sebagai regulator yang independen, netral, dan adil, bebas dari pengaruh kepentingan sepihak.

Kronologi Kasus Manchester City Sejak 2023

Manchester City dijerat lebih dari 100 pelanggaran aturan keuangan Liga Primer pada Februari 2023, setelah investigasi yang berlangsung sekitar empat tahun. Klub kemudian dirujuk ke komisi independen atas dugaan pelanggaran aturan keuangan pada periode 2009 hingga 2018. Sidangnya sendiri baru dimulai pada September 2024 secara tertutup dan rampung pada Desember tahun yang sama setelah berjalan sekitar 12 minggu.

Jarak waktu dari dakwaan hingga munculnya kabar putusan ini terbilang panjang. The Athletic melaporkan putusan itu keluar 1.327 hari setelah City didakwa pada Februari 2023. Rentang itu juga disebut sekitar 22 bulan setelah sidang oleh komisi independen dinyatakan selesai.

Liga Primer menuduh City melanggar aturan yang mewajibkan klub menyajikan “informasi keuangan yang akurat dan memberi gambaran yang benar serta wajar” atas posisi keuangan mereka. City dengan tegas membantah seluruh dakwaan dan menyatakan kasus mereka didukung oleh “bukti tak terbantahkan yang komprehensif”. Selama periode yang disorot dalam perkara ini, City meraih delapan trofi, terdiri dari tiga gelar Liga Primer, tiga Piala Liga, satu Community Shield, dan satu Piala FA.

Dakwaan ini mencakup masa kepelatihan Roberto Mancini dan Manuel Pellegrini, serta dua tahun pertama di bawah asuhan Pep Guardiola, yang meninggalkan klub setelah 10 musim pada akhir kampanye 2025-26. Terpisah dari perkara utama, City juga sempat berselisih dengan Liga Primer soal aturan Associated Party Transaction (APT). Pada 2024, panel arbitrase independen memutuskan sebagian keberatan City atas aturan APT tersebut. Tribunal pada Februari 2025 lalu menilai aturan Liga Primer yang mengatur kesepakatan sponsor periode 2021-2024 “batal dan tidak dapat diberlakukan”, sebelum kedua pihak mencapai penyelesaian pada September 2025. Dalam kesepakatan itu, City menerima bahwa aturan APT sah dan mengikat, dan kedua belah pihak sepakat menghentikan proses hukum. Aturan APT sendiri dibentuk Liga Primer untuk mencegah klub meraup keuntungan dari kerja sama komersial dengan perusahaan yang terafiliasi pemiliknya jika nilainya dianggap melebihi harga pasar wajar.

Rincian 115 Dakwaan Manchester City

Rincian dakwaan yang dihadapi Manchester City mencakup lima kategori pelanggaran berbeda, mulai dari penyajian data keuangan hingga sikap tidak kooperatif selama proses investigasi. Berikut rinciannya:

  • 54 dakwaan: gagal menyajikan informasi keuangan yang akurat pada 2009-10 hingga 2017-18.
  • 14 dakwaan: gagal memberikan rincian yang akurat atas pembayaran kepada pemain dan manajer pada 2009-10 hingga 2017-18.
  • 5 dakwaan: gagal mematuhi aturan UEFA, termasuk Financial Fair Play (FFP), pada 2013-14 hingga 2017-18.
  • 7 dakwaan: melanggar aturan Profitability and Sustainability (PSR) Liga Primer pada 2015-16 hingga 2017-18.
  • 35 dakwaan: gagal bekerja sama dengan investigasi Liga Primer antara Desember 2018 dan Februari 2023.

Selain itu, The Times dan pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire sempat menyebut jumlah dakwaan bisa mencapai 130. Namun BBC Sport menyatakan tidak dapat memverifikasi klaim tersebut, sehingga angka resmi yang beredar tetap 115 dakwaan.

Potensi Sanksi, Banding, dan Ketidakpastian Musim Ini

Konsekuensi yang mungkin dijatuhkan kepada Manchester City belum final karena sidang sanksi belum digelar. Proses itu bisa memakan waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya memutuskan bentuk hukuman. Opsi hukuman yang disebut mungkin mencakup pengurangan poin yang cukup berat untuk membuat City terdegradasi, denda dalam jumlah besar, bahkan pengeluaran dari Liga Primer.

Setelah sanksi dijatuhkan, City diperkirakan mengajukan banding. Ini membuka dua kemungkinan: hukuman baru dipublikasikan setelah proses banding selesai, atau sanksi tetap diumumkan lebih dulu sebelum banding berjalan. Apa pun jalurnya, proses banding berpotensi memperpanjang ketidakpastian yang sudah menyelimuti kompetisi musim ini.

Satu detail yang tak kalah penting menyangkut para pemain. Sejumlah pemain City dikabarkan tidak memiliki klausul pelepasan terkait degradasi dalam kontrak mereka, jika klub kehilangan status di Liga Primer akibat sanksi. Artinya, skenario terburuk bisa membuat klub dan pemain terjebak dalam situasi kontrak yang rumit, tanpa jalan keluar otomatis lewat klausul tersebut.

Klaim Kompensasi dan Preseden Everton-Burnley

Di sisi lain, muncul wacana bahwa klub-klub rival Liga Primer bisa menempuh langkah hukum untuk menuntut kompensasi, dengan alasan mereka dirugikan oleh tindakan City. Sejumlah klub bahkan sudah mulai mencari nasihat hukum sebelum kabar putusan ini mencuat, untuk menilai apakah mereka punya dasar mengajukan klaim finansial. Seorang sumber yang pernah menduduki posisi eksekutif senior di satu klub Liga Primer dan kemudian pindah ke klub lain memperkirakan klub-klub akan mengajukan klaim kompensasi secara individual terhadap Manchester City.

Namun, seorang pengacara terkemuka lain menyatakan kepada BBC bahwa proses itu bahkan mungkin disentralisasi oleh liga. Langkah semacam itu bukan tanpa preseden. Pada Juni lalu, Everton diputuskan harus membayar 35 juta poundsterling kepada Burnley setelah melanggar aturan Profitability and Sustainability (PSR) selama periode tiga tahun. Burnley berargumen bahwa pelanggaran tersebut memengaruhi peluang mereka bertahan di Liga Primer, dan menuntut kompensasi atas kerugian akibat terdegradasi. Everton mengajukan banding dan disebut akan menantang putusan itu “secara tegas dan menyeluruh”, tetapi kasus tersebut menjadi latar menarik bagi perkara Manchester City.

Konteks Lebih Luas: Aturan Keuangan dan Masa Depan Liga Primer

Kasus ini memperlihatkan bagaimana aturan keuangan Liga Primer, terutama PSR dan APT, kini menjadi medan pertarungan hukum, bukan sekadar persoalan adminsitratif. Selama bertahun-tahun, aturan-aturan itu dirancang untuk menjaga kompetisi tetap seimbang dan mencegah klub menikmati keuntungan dari kesepakatan komersial yang dinilai tidak wajar. Ketika aturan tersebut diuji di forum arbitrase maupun komisi independen, hasilnya berpotensi mengubah cara klub beroperasi di bursa transfer dan pasar sponsor.

Bagi klub-klub lain, munculnya wacana kompensasi menandakan bahwa dampak pelanggaran aturan keuangan kini dihitung bukan hanya dalam poin atau denda, tetapi juga dalam kerugian finansial yang diklaim pihak ketiga. Bila klaim semacam itu benar-benar diajukan, tiap klub harus mampu membuktikan hubungan sebab-akibat antara pelanggaran City dan kerugian yang mereka alami, sebuah pembuktian yang tidak sederhana. Inilah sebabnya beberapa pihak menilai proses terpusat oleh liga lebih efisien dibanding puluhan gugatan terpisah.

Yang jelas, perkara ini belum mendekati akhir. Sidang sanksi, kemungkinan banding, dan potensi tuntutan kompensasi membuat kasus 115 dakwaan Manchester City bisa terus bergulir jauh setelah putusan awal diumumkan. Sampai semua tahapan itu selesai, klub-klub Liga Primer, para pemain City, dan penggemar harus hidup dengan ketidakpastian yang belum jelas kapan berakhir.

Kesimpulan

Putusan yang menyatakan 114 dari 115 dakwaan terhadap Manchester City terbukti telah memicu tiga rangkaian persoalan sekaligus: hukuman yang belum ditentukan, banding yang hampir pasti diajukan, dan wacana kompensasi dari klub-klub rival. Preseden Everton yang diwajibkan membayar 35 juta poundsterling kepada Burnley menunjukkan bahwa tuntutan ganti rugi bukan hal mustahil dalam sengketa aturan keuangan Liga Primer. Namun, sampai sidang sanksi digelar dan proses banding tuntas, gambaran akhir dari perkara 115 dakwaan Manchester City masih jauh dari jelas.