Kozo Tashima, presiden kehormatan Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA), resmi menyatakan diri sebagai kandidat dalam pemilihan presiden FIFA tahun depan dan akan berhadapan langsung dengan petahana Gianni Infantino. Pria berusia 68 tahun itu mengumumkan niatnya secara terbuka, dengan menegaskan bahwa pencalonannya bukan sekadar perebutan kursi kekuasaan, melainkan upaya mengembalikan arah sepak bola dunia pada nilai-nilai yang ia yakini.
Langkah Tashima menjadi sorotan karena muncul di tengah tekanan yang belum surut terhadap Infantino. Sejak terungkap bahwa sang petahana pernah merencanakan menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta, kritik datang dari berbagai penjuru dunia sepak bola. Masuknya Tashima ke bursa pencalonan pun dinilai akan menguji seberapa kokoh basis dukungan Infantino, yang selama beberapa bulan terakhir gencar mengonsolidasikan kekuatan menjelang masa jabatan keempatnya.

Siapa Kozo Tashima dan Apa yang Ia Tawarkan
Tashima bukan nama baru di lingkungan FIFA. Ia duduk sebagai anggota Dewan FIFA dan memiliki latar belakang sebagai pesepak bola yang pernah memperkuat tim nasional Jepang, kemudian melanjutkan karier sebagai pelatih. Kombinasi pengalaman di lapangan, di bangku pelatih, dan di ruang rapat federasi itulah yang ia jual sebagai modal utama pencalonannya.
Dalam pernyataan resminya, Tashima menekankan pentingnya menyampaikan kepada dunia sepak bola soal integritas, kesehatan organisasi, serta standar moral yang tinggi. Menurutnya, nilai-nilai itu adalah warisan yang selama bertahun-tahun dijaga dan dibangun oleh sepak bola Jepang. Ia ingin membawa filosofi tersebut ke tingkat global dan berkontribusi pada masa depan sepak bola yang lebih baik.
“Saya memutuskan untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden FIFA demi menyampaikan filosofi ini kepada dunia dan berkontribusi pada masa depan sepak bola yang lebih baik,” ujarnya. Ia menambahkan akan menjalani tantangan tersebut dengan tekad kuat, memanfaatkan pengalaman yang telah ia kumpulkan, sekaligus mendorong perkembangan sepak bola dunia lebih jauh.
Dukungan dari dalam negeri datang langsung dari Ketua JFA Tsuneyasu Miyamoto. Ia menyebut keputusan Tashima sebagai tantangan besar untuk ikut memajukan sepak bola dunia dengan memanfaatkan pengalaman serta pengetahuannya. Miyamoto juga melihat langkah ini sebagai kesempatan memperlihatkan kepada dunia cita-cita dan sikap yang selama ini dijunjung sepak bola Jepang.
Polemik FFE dan Bayangan pada Pemilihan Presiden FIFA
Tekanan terhadap Infantino berakar pada rencana FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah proposal yang akan membuka pintu bagi investor swasta untuk memiliki saham dalam kompetisi Piala Dunia. Gagasan itu memicu gelombang penolakan luas di dunia sepak bola karena dianggap mengaburkan batas antara kepentingan komersial dan tata kelola turnamen paling bergengsi tersebut.
Pada akhir Juli, proposal tersebut akhirnya ditinggalkan atau dibatalkan setelah kritik yang masif dari berbagai pihak. Meski demikian, dampaknya tidak serta-merta hilang. Sejumlah kalangan menilai episode FFE telah mencoreng citra Infantino sebagai pengelola FIFA, sekaligus membuka pertanyaan soal seberapa jauh organisasi itu boleh melibatkan uang swasta dalam aset kompetisinya.
Meski begitu, Infantino tidak tinggal diam. Dalam beberapa bulan terakhir ia berupaya memulihkan dukungan, antara lain dengan menyatakan kepada BBC Sport bulan lalu bahwa ia merasa telah mendapat restu dari “mayoritas yang sangat, sangat besar” dunia sepak bola. Pernyataan itu muncul tak lama setelah ia mendapat dukungan penuh dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), yang menandai perubahan sikap presidennya, Sheikh Salman.
Ujian bagi Basis Dukungan Infantino
Kemunculan Tashima mengubah peta persaingan. Dukungan resmi dari JFA membuatnya bukan sekadar kandidat simbolik, melainkan penantang yang punya jaringan dan legitimasi di tingkat federasi nasional. Inilah yang membuat posisi Infantino menarik untuk dicermati: ia mengklaim punya mayoritas besar, tetapi kehadiran rival dari Asia akan menguji seberapa nyata klaim tersebut.
Sebelum Tashima, mantan bek Tottenham Hotspur, Ramon Vega, sudah lebih dulu menyatakan maju pada Oktober untuk pemilihan tahun depan. Namun bobot keduanya berbeda. Vega datang sebagai suara dari luar struktur, sementara Tashima adalah bagian dari Dewan FIFA yang memahami seluk-beluk politik internal organisasi.
Semua kandidat, termasuk Tashima, wajib memenuhi syarat dukungan minimal lima asosiasi anggota FIFA. Tenggat pendaftaran ditetapkan pada 18 November, sehingga peta dukungan akan semakin jelas dalam hitungan pekan. Bagi Infantino, ini adalah momen pembuktian apakah dukungan yang ia kumpulkan benar-benar solid atau hanya retorika politik.
Filosofi Sepak Bola Jepang sebagai Modal Kampanye
Yang ditawarkan Tashima sebenarnya bukan janji-janji teknis, melainkan pendekatan nilai. Ia berulang kali menekankan integritas, kewajaran pengelolaan, dan standar moral tinggi sebagai fondasi. Dalam konteks FIFA yang beberapa tahun terakhir lekat dengan isu tata kelola, pesan semacam ini menyasar kerinduan banyak federasi nasional akan kepemimpinan yang lebih bersih.
Sepak bola Jepang sendiri dikenal dengan pembinaan yang tertata, disiplin, dan berorientasi jangka panjang. Prestasi tim nasional serta pertumbuhan liga domestik mereka sering dijadikan rujukan bagaimana sebuah federasi membangun ekosistem secara bertahap. Menariknya, Tashima menjadikan rekam jejak kolektif itu sebagai alat diplomasi, bukan sekadar klaim pribadi.
Namun, tantangannya tetap besar. Elektabilitas di kongres FIFA ditentukan oleh perhitungan politik antar-federasi, bukan hanya kualitas gagasan. Dukungan AFC terhadap Infantino menunjukkan bahwa jalur regional sudah banyak terkunci, sehingga Tashima perlu bekerja ekstra untuk meyakinkan asosiasi-asosiasi yang masih mengambang.
Apa yang Bisa Ditunggu Setelah 18 November
Setelah tenggat pendaftaran lewat, fokus akan bergeser ke manuver pengumpulan dukungan menjelang pemungutan suara. Jika Tashima berhasil mengumpulkan lima asosiasi anggota sebagaimana disyaratkan, barulah persaingan benar-benar dimulai. Sebaliknya, bila gagal, pencalonannya berhenti sebagai pernyataan sikap tanpa dampak elektoral.
Terlepas dari hasil akhirnya, langkah Tashima memberi sinyal bahwa kritik terhadap kepemimpinan Infantino belum sepenuhnya reda. Isu FFE meninggalkan jejak yang sulit dihapus, dan kini menjadi bahan bakar bagi mereka yang ingin melihat perubahan di kursi tertinggi FIFA. Dunia sepak bola akan menyaksikan apakah klaim dukungan mayoritas itu bertahan saat berhadapan dengan penantang yang datang membawa nama besar federasi Jepang.
Bagi pembaca yang mengikuti dinamika organisasi sepak bola, beberapa bulan ke depan akan menjadi babak penting: bukan hanya soal siapa yang memimpin FIFA, tetapi juga soal nilai apa yang ingin diletakkan di fondasi sepak bola dunia.