Lionel Messi resmi pensiun dari timnas Argentina. “Saya sudah memberikan segalanya, tidak ada lagi yang bisa saya berikan,” ujar pemain berusia 39 tahun itu. Ia mengakhiri karier internasionalnya sebagai pencetak gol terbanyak sekaligus pemain dengan caps terbanyak sepanjang sejarah Argentina.
Sebagai kapten, Messi mempersembahkan gelar Piala Dunia 2022 di Qatar serta dua trofi Copa America pada 2021 dan 2024. Namun, dunia nyaris tidak pernah menyaksikan periode paling gemilangnya bersama Argentina. Sepuluh tahun sebelumnya, tepatnya pada 26 Juni 2016 di MetLife Stadium, New Jersey, Messi sempat mengumumkan pensiun dan hampir tidak pernah kembali lagi.

Pensiun Pertama Messi dari Timnas Argentina pada 2016
Keputusan pensiun pertama Messi terjadi hanya dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-29. Saat itu ia gagal mengeksekusi penalti dalam adu penalti final Copa America melawan Chile, yang membuat Argentina kembali gagal menjadi juara. Setelah 113 penampilan bersama timnas, Messi bersikeras tidak akan pernah lagi mengenakan jersey Argentina.
“Bagi saya, timnas sudah selesai. Saya sudah melakukan semua yang saya bisa. Sakit rasanya tidak bisa menjadi juara,” ujarnya kala itu. “Ini adalah hal yang paling saya inginkan, tetapi saya tidak bisa mendapatkannya, jadi saya pikir sudah berakhir. Saya pikir ini yang terbaik untuk semua orang,” lanjutnya sambil menahan air mata. Kekalahan demi kekalahan di final telah membuat pemain terbaik dunia itu kehilangan harapan.
Penderitaan itu sebenarnya bisa dipahami. Sebelum 2016, Argentina telah kalah di final Piala Dunia 2014, ditambah kekalahan beruntun di final Copa America 2007, 2015, dan 2016. Pemain yang dianggap sebagai yang terbaik di dunia itu terus gagal di momen yang paling berarti baginya bersama timnas.
Kritik dan Tekanan di Balik Keputusan Pensiun
Menjelang keputusan pensiun pertamanya, Messi sedang berada di bawah tekanan besar dari publik Argentina. Bahkan Diego Maradona, legenda nomor punggung 10 lainnya, ikut meragukan kapasitasnya. “Dia orang yang sangat baik, tetapi dia tidak punya kepribadian,” kata Maradona beberapa minggu sebelum Messi mengumumkan pensiun. “Dia kekurangan karakter untuk menjadi seorang pemimpin.”
Perbandingan dengan Maradona menjadi beban terbesar Messi kala itu. Padahal, ia sudah memenangkan delapan gelar La Liga dan empat Liga Champions bersama Barcelona, serta lima Ballon d’Or, bahkan sebelum usianya menginjak 30 tahun—prestasi yang tak pernah didekati Maradona di level klub. Namun, satu-satunya gelar internasional senior yang ia miliki hanyalah medali emas Olimpiade 2008, sementara Maradona nyaris sendirian membawa Argentina juara Piala Dunia 1986.
Kritik seperti “dia tidak sebagus Diego”, “dia menghilang di momen besar”, hingga “dia bagian dari kegagalan negara” terus dilontarkan kepadanya. Messi bahkan mendapat julukan “Pecho Frio” atau dada dingin, sebuah hinaan yang menyiratkan bahwa darahnya seperti susu dan ia tidak punya nyali. Ini juga bukan kali pertama Messi berpikir untuk meninggalkan timnas.
Penulis biografi Messi, Guillem Balague, mengungkapkan bahwa Messi jatuh sangat dalam ketika kalah. “Leo benar-benar down saat kalah. Dia merasakan tekanan sebagai kapten Argentina dan beban perbandingan dengan Maradona,” kata Balague. Menurutnya, kegagalan di Copa America 2016 adalah kali ketiga Messi memutuskan ingin pergi dari timnas, dan kali pertama ia mengumumkannya di depan publik. Dua keputusan sebelumnya hanya soal membiarkannya menyembuhkan luka, tetapi kali ini ia benar-benar menyatakan sudah cukup.
Kampanye Besar #NoTeVayasMessi
Begitu pengumuman pensiun itu keluar, gelombang kejut langsung menyebar ke seluruh Argentina. Rekan setimnya meminta Messi mengubah keputusan hanya beberapa menit setelah pernyataan tersebut. “Saya tidak bisa membayangkan timnas tanpa Messi,” kata kiper Sergio Romero.
Tagar #NoTeVayasMessi yang berarti “Jangan Pergi Messi” digunakan lebih dari 20.000 kali dalam 24 jam. Presiden Argentina saat itu, Mauricio Macri, bahkan menelepon Messi secara langsung untuk membujuknya bertahan. “Saya bilang kepadanya untuk tidak menghiraukan komentar-komentar itu, karena sesungguhnya kami sangat bahagia dengan apa yang telah dia lakukan,” kata Macri kepada wartawan.
Kurang dari sehari kemudian, Wali Kota Buenos Aires, Horacio Rodriguez Larreta, meluncurkan patung untuk menghormati Messi dan meminta publik menunjukkan kasih sayang mereka. “Sebagai penggemar sepak bola, Leo, saya memintamu untuk mempertimbangkan kembali keputusanmu,” ujar Larreta. Ribuan penggemar berkumpul di pusat kota Buenos Aires, sementara papan-papan jalan di ibu kota Argentina dipenuhi imbauan agar Messi terus membela timnasnya. Maradona pun menyatakan bahwa Messi harus bertahan untuk membawa Argentina ke Piala Dunia 2018.
Kembali ke Timnas dan Akhirnya Mengangkat Trofi
Edgardo Bauza ditunjuk sebagai pelatih Argentina pada Agustus 2016, menggantikan Gerardo Martino setelah kegagalan Copa America. Ia memang hanya bertahan delapan bulan, tetapi langkah pertamanya mungkin menjadi yang paling penting dalam sejarah sepak bola Argentina. Bauza terbang langsung ke Barcelona untuk membujuk Messi mengubah keputusannya, dan desakan publik yang begitu besar terbukti mustahil untuk diabaikan.
Pada 12 Agustus 2016, Messi akhirnya mengumumkan akan kembali membela Argentina demi “cinta kepada negara”. Enam pekan antara deklarasi pensiun dan keputusan kembali itu bisa dianggap sebagai periode paling signifikan dalam sejarah sepak bola Argentina, bahkan dunia. “Saya terlalu mencintai negara ini dan jersey ini,” kata Messi saat kembali bergabung dengan timnas. “Saya berterima kasih kepada semua orang yang ingin saya terus bermain bersama Argentina. Semoga kami segera bisa memberi mereka sesuatu untuk dirayakan.”
Sejak membatalkan keputusan pensiunnya, Messi tampil 94 kali lagi dan mencetak 70 gol tambahan untuk Argentina. Ia mengangkat empat trofi besar, termasuk Piala Dunia 2022, Copa America 2021, Copa America 2024, dan Finalissima 2022. Namun, kesuksesan itu tidak datang secara instan; pada Piala Dunia 2018, Argentina tersingkir oleh Prancis di babak 16 besar, dan banyak pihak mulai mencoret peluang Messi untuk mengangkat tro