Josh Acheampong akhirnya mendapat peluang nyata di Chelsea. Bek muda berusia 20 tahun itu telah menjadi starter dalam enam dari sembilan pertandingan terakhir Chelsea di semua kompetisi, tanda bahwa kepercayaan manajer baru Xabi Alonso kepadanya semakin besar. Dalam periode tersebut, hanya Cole Palmer, Morgan Rogers, Levi Colwill, dan Maxence Lacroix yang mencatat menit bermain lebih banyak daripada 581 menit milik Acheampong.

Kesempatan ini penting karena Chelsea dikenal sebagai akademi yang konsisten mencetak bek untuk tim nasional Inggris. Sejak John Terry menembus tim utama pada awal 2000-an, klub menghasilkan Levi Colwill, Trevoh Chalobah, Marc Guehi, dan Fikayo Tomori untuk Inggris, sekaligus mengembangkan bek internasional Andreas Christensen dan Nathan Ake. Kini Acheampong masuk dalam jalur itu, dan performanya membuat Chelsea harus mengambil keputusan penting soal masa depannya.
Bukti Josh Acheampong Mulai Dipercaya di Chelsea
Kepercayaan Alonso tidak datang sekadar karena rotasi. Acheampong mulai sering dimainkan ketika Chelsea berusaha menemukan kestabilan, dan enam starter dalam sembilan laga terakhir menunjukkan ia bukan lagi pilihan cadangan biasa. Angka 581 menit juga menempatkannya di antara pemain yang cukup sering dipakai, karena hanya empat nama yang melampaui menit bermainnya.
Perubahan performa pertahanan Chelsea memberi konteks tambahan. Sebelum jeda internasional, Chelsea sempat kebobolan 12 gol di liga, angka tertinggi di kompetisi, tetapi setelah itu hanya kemasukan satu gol. Pada laga tandang melawan Everton hari Sabtu, mereka bahkan mencatat clean sheet pertama musim ini, dan Acheampong menjadi bagian dari perbaikan kolektif tersebut.
Peran Taktis Acheampong dalam Tiga Bek Chelsea
Dalam formasi tiga bek, Acheampong berperan sebagai bek tengah yang cukup bebas bergerak. Ia berdampingan dengan Colwill dan Lacroix yang posisinya lebih tetap, sementara Acheampong bisa naik ke tengah lapangan atau melebar untuk menjalankan tugas seperti bek sayap saat Chelsea menguasai bola. Fleksibilitas ini memberi Alonso opsi tambahan dalam membangun serangan tanpa kehilangan keseimbangan di belakang.
Kemampuan Acheampong membangun koneksi dengan Pedro Neto juga terlihat. Keduanya sempat bekerja sama dalam proses terciptanya gol Joao Pedro ke gawang Bournemouth, sebuah bukti bahwa Acheampong tidak hanya bertahan tetapi juga terlibat dalam alur serangan. Sementara itu, pemain seharga £75 juta Wesley Fofana harus menunggu di luar tim, tanda bahwa posisi Acheampong sedang kuat.
Alonso sendiri menegaskan bahwa perbaikan pertahanan Chelsea adalah hasil kerja kolektif. Kembalinya Moises Caicedo dari cedera dan kemitraannya dengan Jordan Henderson yang berusia 36 tahun menambah stabilitas di lini tengah. Dalam tur pramusim ke Australia dan Asia, Alonso juga menekankan kebijakan memberi menit bermain kepada pemain yang paling layak, bukan berdasarkan reputasi, dan lingkungan itulah yang membuka jalan bagi Acheampong.
Jalan Panjang Acheampong Hampir Meninggalkan Chelsea
Acheampong masih terikat kontrak hingga 2029, tetapi keputusan soal masa depannya perlu diambil antara sekarang dan musim panas mendatang. Dalam beberapa jendela transfer terakhir, namanya berulang kali dikaitkan dengan kepindahan dari Stamford Bridge, meski sumber di Chelsea menegaskan bahwa ia “tidak tersentuh.” Pesan itu konsisten, walau kadang memunculkan tanda tanya.
Keraguan itu muncul karena Chelsea sempat menjajaki bek-bek dengan karakter serupa. Pada musim panas 2025, klub serius mengeksplorasi peluang merekrut Dean Huijsen, yang kini berada di Real Madrid, lalu pada Januari 2026 mengincar bek Liverpool Jeremy Jacquet; keduanya hanya setahun lebih tua dari Acheampong. Pada satu tahap di musim panas, Chelsea memiliki 10 bek tengah senior sebelum menutup jendela transfer dengan enam pemain, dan karena musim ini tanpa sepak bola Eropa, ada keraguan nyata soal berapa banyak menit yang akan ia dapat.
Opsi pinjaman sempat dibahas, termasuk kemungkinan pindah ke Crystal Palace. Namun Palace akhirnya meminjam Axel Disasi dari Chelsea, karena aturan Premier League hanya mengizinkan satu pemain pinjaman domestik dari klub lain di kompetisi yang sama. Acheampong sendiri sudah berada di Chelsea sejak kelompok usia U-8, tetapi ia lebih dari sekali nyaris meninggalkan klub.
Pada 2023, ia tidak menandatangani kontrak profesional ketika berusia 17 tahun, padahal itu biasanya menjadi langkah normal bagi prospek akademi elite. Kepemilikan klub saat ini kemudian bergerak mengamankan masa depannya pada Januari 2024 agar tidak kehilangan pemain hanya dengan kompensasi nominal. Dua belas bulan kemudian, Acheampong kembali tampak menuju pintu keluar dalam situasi yang disebut mantan pelatih Enzo Maresca sebagai “situasi buruk”; sebelum negosiasi panjang dan akhirnya berhasil, pihak klub menariknya dari seleksi di level akademi dan tim utama sebelum ia menandatangani kontrak hingga 2029. Kesepakatan yang diteken pada Desember 2024 itu masih menjadi kontrak yang berlaku hingga sekarang.
Keputusan Kontrak yang Menanti Chelsea
Chelsea bisa menghadapi keputusan penting pada musim panas mendatang. Acheampong dan Fofana akan memasuki dua tahun terakhir kontrak mereka, sementara kontrak Colwill berakhir setahun lebih lambat pada 2030. Situasi ini memaksa klub mempertimbangkan perpanjangan kontrak, penjualan, atau langkah lain sebelum masuk dua tahun terakhir.
Kebijakan itu sebagian lahir dari pelajaran setelah pengambilalihan klub pada 2022. Saat itu Antonio Rudiger dan Christensen pergi dengan status bebas transfer ke Real Madrid dan Barcelona, memicu kebutuhan mendesak untuk memperkuat lini belakang. Chelsea kemudian mengeluarkan biaya besar untuk Fofana dan Marc Cucurella, dan pola tersebut menjelaskan mengapa klub kini lebih berhati-hati terhadap pemain yang mendekati akhir kontrak.
Chalobah dan Tosin Adarabioyo dijual ke Como dan Tottenham Hotspur pada musim panas ini setelah memasuki dua tahun terakhir kontrak mereka. Bagi Acheampong, performa terbaru mulai mendapat pengakuan lebih luas dari pendukung Chelsea dan menaikkan taruhan soal masa depannya. Saat ini belum ada pembicaraan aktif mengenai kontrak baru, meski gagasan kontrak berdurasi tujuh tahun pernah dibicarakan.
Ada kehati-hatian di kubu Acheampong untuk terburu-buru bernegosiasi. Mereka ingin bukti lebih jelas bahwa ia bisa menjadi starter reguler di Chelsea sebelum mengambil keputusan jangka panjang. Namun menit bermain yang diberikan Alonso menjadi peluang terkuat klub untuk meyakinkan salah satu lulusan akademi paling menjanjikan agar berkomitmen dalam jangka panjang.
Peluang di Timnas Inggris dan Konteks Akademi
Di level internasional, Acheampong juga mulai menunjukkan tanda perkembangan. Ia menjadi starter dalam delapan dari 10 pertandingan terakhir Inggris U-21, modal penting untuk mengetuk pintu tim senior. Jika manajer Thomas Tuchel mencari opsi serbaguna di sisi kanan pertahanan, penampilan Acheampong bisa menjadi pertimbangan.
Jalur akademi Chelsea memang sudah lama menjadi pemasok bek bagi Inggris. Nama-nama seperti Terry, Colwill, Chalobah, Guehi, dan Tomori menunjukkan bahwa lulusan klub bisa menembus level tertinggi. Keberhasilan Acheampong, jika berlanjut, akan memperkuat reputasi itu sekaligus memberi Chelsea keuntungan dalam negosiasi kontrak.
Secara keseluruhan, Josh Acheampong telah bergerak dari pemain yang masa depannya dipertanyakan menjadi bagian nyata dari rencana Chelsea. Peran fleksibelnya di lini belakang, kepercayaan Alonso, serta kontribusinya pada perbaikan pertahanan membuat posisinya semakin kuat. Di sisi lain, kontrak hingga 2029 dan ketiadaan pembicaraan baru berarti masa depannya belum sepenuhnya selesai.
Bagi Chelsea, menit bermain yang diberikan Alonso adalah cara paling meyakinkan untuk menunjukkan bahwa Acheampong punya tempat jangka panjang. Bagi sang pemain, kesempatan menjadi starter reguler akan menentukan apakah ia layak memperpanjang kontrak atau membuka kemungkinan baru. Jika tren ini berlanjut, Acheampong bisa menjadi lulusan akademi berikutnya yang tidak hanya bertahan di Stamford Bridge, tetapi juga menembus timnas senior Inggris.