Team Bonding ala Tony Pulis: dari Bir sampai Kamp Militer

Konsep team bonding ala Tony Pulis kembali mencuat setelah mantan manajer Stoke City itu mengomentari pemusatan latihan Tottenham Hotspur ke Marbella. Dalam kolomnya untuk BBC Sport, Pulis menilai perjalanan singkat ke Spanyol selatan tersebut bukan sekadar soal latihan fisik, melainkan cara seorang pelatih mengenali karakter pemainnya dari jarak dekat. Menurut dia, metode mengumpulkan skuad di satu tempat selama beberapa hari tetap relevan meski wajah sepak bola modern sudah jauh berubah.

Bonding ala Tony Pulis

Pembahasan ini penting karena Tottenham disebut datang ke Marbella dengan rombongan pemain yang sangat baru, hasil dari bursa transfer musim panas yang ramai, termasuk beberapa rekrutan yang datang menjelang penutupan jendela transfer. Roberto de Zerbi, yang disebut Pulis sebagai bos Spurs, butuh waktu bersama skuadnya di lapangan latihan setelah awal musim yang buruk. Di mata Pulis, perjalanan ke iklim hangat seperti itu adalah kesempatan emas untuk menyatukan tim sekaligus memetakan siapa sebenarnya orang-orang di dalam ruang ganti.

Alasan Tottenham Membawa Skuadnya ke Marbella

Pulis menulis bahwa dirinya sempat mengerutkan dahi ketika mendengar kabar keputusan Spurs berangkat ke Marbella begitu awal musim. Namun ia langsung memahami logikanya begitu mengingat banyaknya pemain baru yang tiba di klub tersebut pada musim panas ini. Bagi seorang pelatih, mengenal pemain di lapangan saja tidak cukup, apalagi ketika skuadnya hampir seluruhnya baru.

De Zerbi, yang menurut Pulis memiliki gaya kerja khas Italia, diperkirakan memakai kamp tersebut untuk menggelar sesi pagi dan sore. Tujuannya jelas: menanamkan prinsip permainan, terutama soal bentuk tim dan arah serangan, sampai menjadi kebiasaan. Latihan intensif semacam itu membutuhkan suasana yang terkendali, jauh dari gangguan rutinitas harian di markas klub.

Namun Pulis menegaskan bahwa latihan bukan satu-satunya tujuan. Di luar lapangan, De Zerbi punya peluang mengamati kepribadian tiap pemain, bagaimana mereka bersikap saat makan bersama, saat santai, atau saat menghadapi tekanan kecil sehari-hari. Kalau perjalanan itu berhasil, pelatih akan pulang dengan pemahaman pertama soal kekuatan dan kelemahan masing-masing individu, baik di dalam maupun di luar lapangan, sebelum menghadapi Coventry pada laga Senin malam.

Pelajaran Team Bonding ala Tony Pulis dari Stoke

Sebagai manajer Stoke City, Pulis rutin membawa timnya ke Austria pada masa pramusim dengan alasan yang mirip dengan yang dipakai De Zerbi sekarang. Perjalanan itu bukan hanya untuk menguji kebugaran, tetapi juga untuk melihat bagaimana sekelompok pemain bekerja sama ketika ditempatkan dalam situasi yang tidak nyaman. Pulis menyebut dirinya selalu percaya pada pentingnya membangun rasa kekeluargaan di ruang ganti, dengan komitmen setiap pemain untuk kepentingan tim di atas kepentingan pribadi.

Selama sekitar sepuluh hari, para pemain dihadapkan pada ujian berat yang dirancang untuk memunculkan tekad dari dalam diri mereka. Menurut Pulis, kemampuan menyelesaikan tugas-tugas sulit itulah yang kemudian membantu tim melewati masa-masa berat di awal kampanye Premier League. Ia mengaku senang melihat para pemain perlahan mulai akrab di lapangan latihan dan saat makan bersama, karena dari situ ia bisa membaca watak mereka satu per satu.

Pulis juga jujur soal sisi sebaliknya. Ia mengakui ada satu atau dua pemain yang karakternya tidak sesuai dengan kebutuhan tim, dan mereka tidak bertahan lama di klub. Meski begitu, ia menegaskan kepergian mereka terjadi tanpa rasa sakit hati dari pihaknya, karena proses bonding memang berfungsi sebagai penyaring alami, bukan sekadar acara kumpul-kumpul tanpa makna.

Dari Pantai Blackpool sampai Budaya Minum Era 70-80an

Pulis lalu membandingkan pengalaman pemain masa kini dengan pengalamannya sendiri di awal karier. Klub-klub Premier League yang membawa pemain pergi sekarang biasanya memilih hotel mewah dengan fasilitas lengkap dan makanan kelas atas. Bahkan bus tim pun diikuti bus lain yang lebih besar berisi staf non-pemain, sesuatu yang sama sekali tidak dikenal pada masanya.

Ketika masih menjadi pemain, Pulis dikirim ke Blackpool selama tiga hari untuk latihan pramusim. Ia dan rekan-rekannya menginap di guest house dengan tempat tidur berukuran kecil yang harus dipakai berdua, dan itu pun sudah cukup membuat mereka lebih akrab. Pagi hari diisi lari di atas pasir pantai, sore hari bermain tujuh lawan tujuh di lapangan taman setempat setelah lebih dulu membersihkannya dari kotoran anjing, sedangkan malam hari mereka diizinkan keluar untuk minum beberapa gelas bir tanpa batas waktu pulang, asalkan sudah siap di lantai bawah pukul delapan pagi keesokan harinya.

Menurut Pulis, di situlah perubahan terbesar terjadi. Pada dekade 1970-an dan 1980-an, budaya minum begitu kuat di seluruh lapisan liga, termasuk di klub besar seperti Liverpool, Manchester United, atau Arsenal yang saat itu mendominasi Inggris maupun Eropa. Pada awal karier kepelatihannya, kebersamaan terbangun lewat pertemuan di pub setelah pertandingan dan setelah latihan di hari kerja. Libur musim dingin masih langka, dan satu-satunya alasan pemain pergi ke Spanyol adalah liburan akhir musim dengan konsumsi alkohol yang lebih banyak lagi.

Sekarang, Pulis menilai para pemain jauh lebih sadar akan bahaya minum berlebihan. Konsekuensinya, seorang manajer harus mencari cara lain agar pemain tetap terhubung, terutama karena ada banyak distraksi baru yang harus dihadapi. Salah satu distraksi yang paling ia sesali adalah ponsel; Pulis mengaku bisa marah jika masuk ke ruang makan di markas latihan atau hotel dan melihat sekelompok pemain sibuk menatap layar tanpa saling bicara.

Kamp Militer, Terowongan Gelap, dan Latihan Renang

Pulis juga menyoroti metode yang mungkin tidak pernah terlintas di benak De Zerbi, yaitu membawa tim ke kamp militer seperti yang sering ia lakukan di awal karier kepelatihan. Salah satu contohnya adalah ketika ia membawa Stoke ke Exmouth untuk menjalani latihan lintas alam. Cuaca saat itu sangat dingin dan hujan deras, sementara rutenya mencakup panjat tebing dan berenang di terowongan gelap sambil berusaha mengimbangi instruktur kebugaran Angkatan Darat. Pulis menegaskan ia ikut menjalani semua latihan itu bersama para pemain.

Kalau pagi diisi aktivitas fisik, sore harinya dihabiskan di dalam ruangan dengan tugas-tugas praktis untuk mengasah kerja sama tim. Para pemain, misalnya, diberi waktu dua puluh menit untuk menyeberangi suatu area menggunakan drum dan papan tanpa menyentuh tanah. Malamnya mereka tidur di ranjang bertingkat dengan alas hanya berupa lembaran plastik di atas kasur dan satu selimut tipis, sebuah kondisi yang jauh dari kenyamanan hotel modern.

Meski terdengar keras, Pulis menilai pengalaman itu berhasil karena semua orang menerima aturannya dan menyambut setiap tantangan dengan semangat. Baginya, nilai dari latihan semacam itu bukan pada penderitaannya, melainkan pada respons kolektif ketika tim dihadapkan pada kesulitan yang sama. Seiring kariernya naik, ia pun mulai diizinkan membawa tim ke luar negeri dengan fasilitas yang lebih layak.

Irdning, The Castle, dan Skenario Menyewa Sopir Bus

Tujuan favorit Pulis adalah Irdning, sebuah kota kecil di Pegunungan Alpen Austria yang menurutnya ideal untuk segala kebutuhan seorang manajer, termasuk untuk memaksa pemain berlari atau bersepeda menanjak. Ia hampir selalu menginap di bangunan berusia sekitar seribu tahun yang ia sebut “The Castle”, lengkap dengan kolam renang, gym besar, sauna, ruang uap, spa, dan lapangan golf. Real Madrid juga rutin menginap di sana, dan kedekatan itu berujung pada laga persahabatan pada 2007 setelah klub Spanyol tersebut bersedia bermain asalkan Stoke menukar hotel.

Kunjungan pertama Pulis ke tempat itu pada 2004, di masa awal kepelatihannya di Stoke, nyaris berubah menjadi bencana. Saat itu ia bekerja di bawah kepemilikan asal Islandia yang sering berbeda pendapat dengannya soal sepak bola, sementara skuadnya dihuni pemain berkarakter kuat namun berpola pikir old school. Setelah tiga hari pertama bekerja keras, hari keempat seharusnya menjadi hari istirahat untuk memancing, golf, atau berbelanja, tetapi para pemain punya rencana lain.

Gerry Taggart, yang disebut Pulis sebagai pemain luar biasa, meminta izin meminjam bus tim untuk pergi minum bir di luar hotel. Pulis menyetujui, tetapi dengan syarat tersembunyi: ia diam-diam memberi uang kepada sopir bus agar tidak membawa rombongan ke tempat yang terlalu menarik. Para pemain akhirnya kembali ke hotel, dan meski belakangan menyadari adanya skenario kecil-kecilan itu, mereka tetap menikmati waktu bersama di lokasi yang bisa diawasi sang manajer. Pulis menyebut hal seperti itu mungkin tidak perlu dipikirkan De Zerbi di Marbella.

Sorotan pada Manchester City dan Laga Melawan PSG

Di akhir kolomnya, Pulis beralih ke pertandingan Liga Champions antara Manchester City dan Paris Saint-Germain yang ia sebut sebagai tontonan bernuansa klasik. Laga itu menghadirkan banyak umpan silang, tembakan, dan aksi di depan gawang, dengan PSG tampil luar biasa di babak pertama. Setelah jeda, City memperlihatkan taringnya dan menurut Pulis pantas mendapatkan hasil lebih dari pertandingan tersebut.

Kedua tim bermain menyusuri lapangan dan berusaha mengirim bola ke pemain paling berbakat, yaitu para penyerang, secepat mungkin. Tidak ada umpan ke belakang atau menyamping, dan Pulis berharap para pelatih muda yang menonton terpengaruh oleh urgensi bermain ke depan seperti itu. Ia menilai pertandingan tersebut sebagai contoh sepak bola yang menghibur tanpa mengorbankan intensitas.

Namun Pulis tidak bisa membahas City tanpa menyinggung persoalan di luar lapangan. Ia mengingat momen ketika kabar bahwa City dinyatakan bersalah melanggar aturan finansial Premier League mencuat, dan saat itu ia sempat menulis dengan nada bercanda agar City mengirimkan trofi FA Cup beserta medali juara 2011 ke Stoke. Sampai sekarang, kata dia, kiriman itu belum tiba. Ia pun mengajukan pertanyaan mengapa prosesnya memakan waktu begitu lama, dan mengapa para petinggi Premier League tetap naik ke podium menyerahkan berbagai trofi City selama periode tersebut. Menurut Pulis, situasi ini telah menimbulkan bayangan yang menyelimuti seluruh sepak bola, bukan hanya satu liga.

Kesimpulan

Dari pengalaman Pulis, terlihat bahwa perjalanan bersama skuad selalu punya dua fungsi: menyiapkan fisik dan taktik, sekaligus membaca manusia di dalamnya. Perubahan zaman memang menggeser bentuknya, dari pantai Blackpool dan pub setelah latihan menjadi hotel berbintang dengan gym dan spa, tetapi tujuannya tetap sama. De Zerbi di Marbella menjalankan versi modern dari gagasan lama itu, sementara Pulis mengingatkan bahwa sentuhan personal seorang manajer tetap menjadi kunci.

Di sisi lain, kolom ini juga menunjukkan bahwa sepak bola tidak pernah lepas dari sorotan di luar pertandingan. Kisah tentang sopir bus yang dibayar diam-diam dan pertanyaan tajam soal proses hukuman finansial Manchester City sama-sama menggambarkan betapa detail kecil dan keputusan besar bisa memberi warna pada satu klub. Tony Pulis menyampaikan pemikiran itu dalam wawancara dengan Chris Bevan dari BBC Sport.