Newcastle United Terima Tagihan Pajak Raksasa dari HMRC
Newcastle United harus membayar denda pajak sebesar £3,2 juta kepada otoritas pajak Inggris, HM Revenue and Customs (HMRC). Klub Liga Premier itu dinilai dengan sengaja gagal memenuhi kewajiban perpajakan terkait transfer pemain di era kepemilikan Mike Ashley.
Berdasarkan dokumen resmi yang baru dirilis, Newcastle United tercatat sebagai wajib pajak yang melakukan pelanggaran dengan sengaja (deliberate tax defaulters). Klub yang sekarang dimiliki oleh Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) ini masuk dalam daftar hitam HMRC yang dipublikasikan pada Kamis lalu.
Rincian Denda: Pajak Pokok dan Penalti
Dari total tagihan £3,2 juta, Newcastle wajib membayar £1,9 juta sebagai pajak yang belum disetor. Selain itu, klub dikenakan penalti sebesar £1,25 juta karena kelalaian yang dinilai disengaja. Angka ini muncul setelah penyelidikan panjang yang berlangsung hampir satu dekade.
Denda pajak Newcastle United ini terkait dengan investigasi yang dikenal dengan sandi Operation Loom. Pada 2017, petugas HMRC menggerebek Stadion St James’ Park sebagai bagian dari penyelidikan tersebut.
Skema Kontrak Palsu dan Manipulasi Pajak
Dalam dokumen pengadilan yang terungkap, HMRC menyebut Newcastle secara sistematis menyalahgunakan sistem perpajakan saat membeli pemain. Mereka diduga menggunakan kontrak palsu untuk menyembunyikan penerima uang yang sebenarnya, sehingga menghindari pembayaran pajak penghasilan, PPN, dan asuransi nasional terkait gaji pemain serta biaya agen.
Skema ini diketahui oleh manajemen klub dan melanggar regulasi agen FA. Petugas HMRC Lee Griffiths saat itu menyatakan bahwa praktik tersebut terjadi dengan sepengetahuan penuh klub.

Kronologi: Dari Penggerebekan hingga Penyelesaian Perdata
HMRC mengatakan pelanggaran terjadi antara April 2010 dan April 2016, tepat sebelum penggerebekan. Jumlah pajak yang belum dibayar sebesar £1,2 juta cocok dengan angka yang diumumkan otoritas pajak pada 2017. Investigasi kriminal dihentikan pada 2021 tanpa tuntutan, tetapi HMRC melanjutkan proses perdata karena “ketidakpatuhan pajak yang bersifat serius”.
Penyelesaian akhirnya dicapai antara pemilik baru Newcastle (PIF) dan HMRC. Pihak Mike Ashley, melalui juru bicara St James Holdings Ltd, menegaskan bahwa tidak ada temuan kesengajaan oleh pengadilan dan tidak ada pengakuan dari pihak klub atas pelanggaran yang disengaja.
Implikasi bagi Newcastle United
Denda pajak Newcastle United ini menjadi pengingat bahwa klub sepak bola tidak kebal dari audit ketat otoritas pajak. Meskipun kasus kriminal sudah ditutup, sanksi perdata sebesar £3,2 juta tetap memberatkan keuangan klub. Kasus ini juga menyoroti praktik transfer pemain yang rumit dan seringkali menjadi celah penghindaran pajak.
Ke depannya, klub harus lebih transparan dalam setiap transaksi agar tidak kembali masuk dalam daftar hitam HMRC. Bagi penggemar, kasus ini menambah catatan kurang sedap di masa kepemilikan Ashley sebelum era baru di bawah PIF.
Kesimpulan
Tagihan £3,2 juta dari HMRC menandai akhir dari penyelidikan panjang terkait praktik perpajakan Newcastle United di era Mike Ashley. Meskipun ada perbedaan pendapat soal kesengajaan, klub sudah menyelesaikan kewajiban perdata. Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya kepatuhan pajak dalam industri sepak bola yang penuh dengan transaksi bernilai tinggi.