UEFA Tolak Permintaan FAI Pisahkan Irlandia vs Israel

Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI) mengungkap bahwa UEFA menolak permintaan mereka agar timnas Republik Irlandia dan Israel tidak lagi dipertemukan dalam undian kompetisi di masa depan. Penolakan itu disampaikan langsung oleh CEO FAI, David Courell, kepada awak media pada Jumat, beberapa bulan setelah kedua negara tergabung dalam satu grup pada undian Februari lalu.

Permintaan tersebut muncul sebagai respons atas situasi tidak nyaman yang kini membayangi laga Irlandia vs Israel di ajang Nations League. Meski demikian, badan sepak bola Eropa itu disebut tidak bisa memenuhi permintaan FAI karena alasan yang bersifat prosedural, bukan karena besarnya desakan publik Irlandia terhadap isu kemanusiaan di Palestina.

UEFA

Alasan UEFA Menolak Permintaan FAI

Courell menjelaskan bahwa UEFA memiliki daftar formal yang mengatur tim-tim mana yang tidak boleh dipertemukan dalam undian. Menurutnya, dasar penyusunan daftar itu adalah konflik bersenjata langsung antarkedua negara, bukan sentimen publik atau tekanan politik dari federasi anggota.

“Jawabannya cukup jelas. Mereka (UEFA) punya istilah formalnya, saya tidak ingat istilah persisnya, daftar ‘do not draw’ atau apa pun namanya. Itu benar-benar didasarkan pada konflik, konflik langsung, bukan sentimen publik,” kata Courell. Ia menambahkan bahwa jawaban yang ia terima menyebut pemisahan itu mustahil dilakukan karena Irlandia dan Israel tidak pernah terlibat konflik bersenjata secara langsung satu sama lain.

Karena alasan itulah, FAI tidak memiliki celah untuk mendorong perubahan kebijakan undian melalui jalur resmi UEFA. BBC Sport NI sendiri telah menghubungi pihak UEFA untuk meminta tanggapan resmi terkait pernyataan Courell tersebut.

Kronologi Pertemuan Irlandia dan Israel

Akar persoalan ini bermula dari undian Februari yang menempatkan Republik Irlandia dan Israel dalam grup yang sama. Dari hasil undian itu, kedua tim dijadwalkan bertemu pada 27 September dan 4 Oktober dalam laga Nations League.

Pada Juni, FAI mengonfirmasi bahwa laga kandang mereka yang semula dijadwalkan berlangsung di Aviva Stadium, Dublin, dipindahkan dan akan dimainkan tanpa penonton di Backa Topola, Serbia. Sementara itu, tidak ada tiket yang disediakan bagi penggemar Irlandia untuk laga “kandang” Israel yang digelar di Debrecen, Hungaria.

Keputusan untuk tetap melakoni pertandingan ini diambil melalui mekanisme internal FAI. Dalam rapat umum luar biasa pada Juli, para delegasi mendukung mosi FAI untuk melanjutkan kedua laga, dengan pertimbangan bahwa pemboikotan akan menimbulkan “kerugian besar dan berkepanjangan” bagi asosiasi.

Tekanan Publik dan Kampanye Stop The Game

Seiring berjalannya waktu, keputusan FAI untuk memenuhi jadwal pertandingan menghadapi tekanan yang semakin besar. Situasi ini tidak lepas dari konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah, yang memicu solidaritas luas dari masyarakat Irlandia terhadap Palestina.

Kelompok Irish Sport for Palestine meluncurkan kampanye bertajuk “Stop The Game” yang menyerukan pemboikotan laga Irlandia vs Israel. Kampanye itu mendapat dukungan dari sejumlah nama besar sepak bola Irlandia, termasuk mantan manajer Republik Irlandia Brian Kerr dan mantan pemain James McClean.

Bahkan, laga persahabatan melawan Qatar di Dublin pada Mei sempat terganggu ketika bola-bola tenis dilempar ke atas lapangan sebagai bentuk protes. Aksi semacam ini menunjukkan bahwa desakan agar FAI mundur dari pertandingan bukan hanya datang dari kelompok aktivis, tetapi juga merambah ke stadion.

FAI: Satu-satunya Federasi yang Menyerukan Israel Dikeluarkan

Dalam wawancara dengan RTE, Courell menyatakan bahwa dirinya “menghargai” besarnya kekuatan sentimen publik Irlandia terkait pertandingan tersebut. Ia juga menegaskan bahwa FAI telah lebih dulu meminta UEFA melarang Israel tampil di kompetisi Eropa.

“Kami berharap kami tidak berada dalam posisi ini. Kami telah menyerukan secara publik, dan secara formal, agar Israel dikeluarkan dari sepak bola internasional,” ujarnya. Menurut Courell, FAI adalah satu-satunya federasi di antara 55 anggota UEFA yang mengambil langkah formal semacam itu hingga saat ini.

Meski begitu, ia menekankan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan FAI karena tidak ada langkah institusional dari UEFA. “Karena itu, keputusan berada di tangan FAI, dan kami ingin, terutama saat ini, memberikan dukungan dan perlindungan kepada para pemain karena ini adalah keputusan yang berada di tangan dewan FAI,” tambahnya.

Courell juga mengungkapkan bahwa FAI telah berbicara secara intensif dengan UEFA selama setahun terakhir. Menurutnya, UEFA mengakui kuatnya keyakinan FAI dan solidaritas rakyat Irlandia terhadap penderitaan Palestina, namun tetap harus mempertimbangkan sentimen 54 negara anggota lainnya. Karena itu, sikap yang diinginkan FAI dinilainya belum menjadi pandangan universal di Eropa.

Konteks Konflik yang Melatarbelakangi

Isu ini tidak bisa dilepaskan dari konflik besar yang meletus sejak 7 Oktober 2023, ketika kelompok bersenjata Palestina Hamas menyerang Israel. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang dan membuat 251 orang disandera.

Sebagai respons, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza. Perserikatan Bangsa-Bangsa meyakini bahwa serangan balasan tersebut telah menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina.

Israel secara rutin membantah melakukan genosida atau kejahatan perang, dan menyatakan bahwa tindakannya di Gaza dapat dibenarkan sebagai upaya membela diri. Perbedaan posisi inilah yang membuat posisi FAI dan UEFA berada di antara dua tekanan: desakan publik domestik dan aturan keanggotaan yang berlaku bagi semua federasi.

Apa yang Mungkin Terjadi Berikutnya

Dengan ditolaknya permintaan pemisahan undian, kemungkinan pertemuan Irlandia dan Israel di kompetisi mendatang tetap terbuka. Ini berarti FAI harus bersiap menghadapi skenario serupa berulang, lengkap dengan tekanan publik yang mungkin kembali menguat.

Keputusan bermain tanpa penonton dan tanpa tiket bagi penggemar Irlandia menunjukkan bahwa asosiasi berusaha meredam risiko keamanan sekaligus mengurangi potensi protes di dalam stadion. Namun, langkah itu tidak menyelesaikan persoalan inti, yaitu perbedaan pandangan antara keinginan sebagian besar publik Irlandia dan keterbatasan ruang gerak FAI di tingkat Eropa.

Bagi UEFA, kasus ini menjadi ujian tentang sejauh mana kebijakan undian yang bersifat teknis mampu menampung dinamika politik dan kemanusiaan yang berkembang di negara anggotanya.

Penolakan UEFA atas permintaan FAI menegaskan bahwa aturan pemisahan tim dalam undian tidak dirancang untuk merespons tekanan sentimen publik, melainkan konflik bersenjata langsung. FAI kini berada di posisi sulit: telah menjadi satu-satunya federasi Eropa yang secara formal menyerukan pengeluaran Israel, tetapi tetap harus menjalani laga yang memicu penolakan luas di dalam negeri.

Dengan jadwal 27 September dan 4 Oktober yang semakin dekat, sorotan terhadap sikap FAI, UEFA, dan para pemain akan terus berlanjut. Bagaimana kedua pertandingan berjalan nanti akan menjadi gambaran nyata seberapa besar dampak tekanan publik terhadap keputusan institusi sepak bola Eropa.