Anthony Gordon: Semangat Juang yang Tak Pernah Padam
Anthony Gordon, pemain sayap Timnas Inggris yang baru saja menyelesaikan transfer senilai £60,7 juta ke Barcelona, dikenal dengan mentalitas bajanya. Perjalanan karier Anthony Gordon dari lingkungan kurang mampu di Liverpool hingga ke panggung Piala Dunia adalah cerita tentang ketangguhan dan tekad yang tak kenal lelah. Ia selalu mencari cara untuk menjadikan setiap tantangan sebagai bahan bakar untuk terus berkembang.
Momen Kocak di Azteca yang Jadi Pemicu
Dalam laga 16 besar Piala Dunia melawan Meksiko, pelatih Meksiko Javier Aguirre sempat melontarkan kalimat tidak sopan kepada Gordon tepat di sisi lapangan. Alih-alih marah, Gordon justru menanggapinya dengan santai. “Itu bagian dari permainan. Saya menganggapnya sebagai pujian karena saya baru saja melewati full-back mereka,” ujarnya. Momen ini justru membuat Anthony Gordon semakin termotivasi untuk tampil maksimal.
Gordon terlibat dalam gol kedua Jude Bellingham dan memenangkan penalti krusial untuk Harry Kane setelah Inggris kehilangan satu pemain akibat kartu merah. Inggris menang 3-2 di stadion Azteca yang legendaris, mengatasi tekanan suara penonton, ketinggian, dan kekurangan jumlah pemain. “Inilah yang saya sukai – kemenangan di tengah kesulitan,” tegasnya.

Frustrasi Euro 2024 Jadi Pelajaran Berharga
Di Euro 2024, Gordon hanya tampil sebagai pemain pengganti di menit ke-89. Pengalaman pahit itu ia bawa ke Piala Dunia. “Saya tidak menikmatinya saat itu, tetapi sekarang saya bisa menggunakannya sebagai pengalaman,” katanya. Anthony Gordon bahkan mengaku sempat menginginkan nomor punggung 11, tapi mendapat nomor 18 – sama seperti di Euro – dan ia melihatnya sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.
Awal Buruk Piala Dunia 2026 dan Kebangkitan Spektakuler
Piala Dunia kali ini tidak dimulai dengan mulus bagi Gordon. Ia jarang menyentuh bola di laga perdana melawan Kroasia, tampil buruk melawan Ghana, dan bahkan dicadangkan saat melawan Panama. Namun, saat Inggris tertinggal 0-1 dari Republik Demokratik Kongo di babak 32 besar, Gordon masuk sebagai pemain pengganti dan memberikan dua assist untuk kemenangan 2-1. “Alasan saya selalu bisa bangkit adalah karena mentalitas saya terhadap kekecewaan sangat baik,” jelasnya.
Belajar dari Kekecewaan
Gordon mengakui bahwa cedera di akhir musim bersama Newcastle membuatnya merasa “berkarat” di dua laga awal. “Saya bermain aman, tidak menggunakan kekuatan individu. Saat mendapat kesempatan lawan Kongo, saya memutuskan untuk melakukan hal-hal yang membawa saya ke sini,” ujarnya.
Latar Belakang Miskin yang Membentuk Karakter
Lahir di Norris Green dan dibesarkan di Walton – dua kawasan miskin di Liverpool – Anthony Gordon tumbuh dengan api perjuangan untuk keluar dari lingkungan tersebut. “Lingkungan itu membuat saya menjadi pribadi yang kuat dan berapi-api untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga,” kenangnya. Semangat inilah yang mendorongnya untuk terus belajar bahasa asing, membaca banyak buku, dan mengeksplorasi potensi diri.
Transfer ke Barcelona dan Persaingan dengan Rashford
Gordon memukau banyak pihak saat presentasi di Barcelona dengan menjawab pertanyaan dalam bahasa Spanyol. Ia mengakui bahwa hasrat untuk berkembang adalah segalanya. “Kami bermain sepak bola bukan hanya untuk menang, tapi untuk melihat siapa diri kami yang sebenarnya,” katanya. Menariknya, di musim panas yang sama, Barcelona melepas Marcus Rashford kembali ke Manchester United. Gordon menyebut Rashford sebagai “orang yang baik dan sering disalahpahami”, dan Rashford pun memberi selamat atas transfernya serta membantu mencarikan rumah di Barcelona.
Menatap Laga Kontra Norwegia
Kini perhatian tertuju pada perempat final Piala Dunia melawan Norwegia. Gordon menekankan pentingnya fokus pada proses, bukan hasil akhir. “Ini peluang besar. Cara kita melakukan segala sesuatu sangat penting. Jika kita mulai memikirkan trofi atau medali, kita akan keluar jalur. Fokuslah pada proses,” pesannya. Ia juga memuji pelatih Thomas Tuchel sebagai “motivator luar biasa” yang selalu mengedepankan tujuan bersama di atas ego individu.
Pengaruh Altitude dan Pemulihan
Gordon mengaku merasakan efek ketinggian di Mexico City pada 20 menit pertama, namun setelah itu ia beradaptasi. “Banyak yang bicara soal altitude, tapi saya ingin membuktikan bahwa ini soal mental, bukan fisik,” tegasnya. Dua hari libur setelah laga melawan Meksiko membantunya pulih dan kembali segar.
Kesimpulan: Mentalitas adalah Segalanya
Perjalanan Anthony Gordon dari anak miskin di Liverpool menjadi bintang Timnas Inggris dan pemain Barcelona adalah bukti bahwa kekuatan mental lebih penting dari segalanya. Ia selalu mencari tantangan, menjadikan kegagalan sebagai batu loncatan, dan tidak pernah berhenti ingin tahu sejauh mana ia bisa berkembang. Kini, semua mata tertuju padanya di laga melawan Norwegia – dan Gordon sudah siap membuktikan diri lagi.