Nama Martyn Jackson mencuat setelah ia mencetak gol dalam kemenangan 5-1 Inggris atas Spanyol pada final Piala Dunia Sepak Bola Transplantasi (Transplant Football World Cup) di Frankfurt. Capaian itu istimewa karena setiap pemain yang tampil di turnamen tersebut — kawan maupun lawan — adalah penerima organ donor, tak terkecuali dirinya. Inggris sendiri melaju ke partai puncak dengan melewati enam tim dan mengemas total 36 gol.
Yang membuat perjalanan Martyn Jackson begitu luar biasa adalah rentang waktunya yang pendek. Kurang dari dua tahun sebelumnya, ia baru saja menjalani transplantasi jantung setelah nyawanya nyaris tak tertolong. Kisahnya kini menjadi salah satu contoh paling kuat tentang bagaimana donor organ dapat mengembalikan hidup seseorang, sekaligus menjadi pengingat di tengah menurunnya jumlah pendonor di Inggris.

Dari Kemenangan di Liga Non-Liga ke Panggung Dunia
Ketika meninggalkan lapangan usai Ramsbottom United mengalahkan Cheadle Town 2-1 pada Oktober 2024, Jackson sama sekali tidak membayangkan dirinya akan menjadi juara dunia. Beberapa hari setelah pertandingan itu, ia justru merasa tidak enak badan pada malam hari dan harus dilarikan ke rumah sakit. Diagnosisnya adalah miokarditis, yaitu peradangan pada otot jantung yang umumnya dipicu infeksi.
Kondisinya memburuk dengan cepat. Dalam hitungan minggu, Jackson masuk ke daftar tunggu super urgent untuk transplantasi jantung — prioritas tertinggi di antara tiga tingkatan pasien yang menunggu jantung baru. Pada saat yang sama, ia mendapat keajaiban berupa jantung dari seorang pendonor, dan pada 28 November 2024 operasi transplantasinya berhasil dijalankan di Wythenshawe Hospital, Greater Manchester.
Jackson mengaku dirinya sangat beruntung. Menurutnya, terima kasih kepada pendonor dan keluarganya tidak akan pernah cukup. Ia menyebut mereka telah memberinya hadiah berupa kehidupan, sekaligus kesempatan untuk menjalani hidupnya sepenuhnya.
Nyawa yang Ditopang Pompa Mekanis
Dua hari setelah kemenangan Ramsbottom atas Cheadle, Jackson mulai merasakan gejala yang tidak biasa. Kasusnya ternyata begitu berat sehingga dokter harus memasang pompa mekanis pada jantungnya agar ia tetap hidup selama menunggu organ pengganti. Situasi itu, kata Jackson, teramat menakutkan bagi siapa pun yang mengalaminya.
Meski demikian, ia memilih menerima keadaan. Ketika kondisi seseorang sudah kritis, menurutnya tidak banyak yang bisa dilakukan selain pasrah dan menjalani setiap tahap pengobatan. Sikap itu pula yang membantunya melewati masa-masa paling gelap sebelum operasi.
Tim medis yang menanganinya adalah Dr Paul Callan, konsultan kardiologi di Heart and Lung Centre, Wythenshawe Hospital. Ia mendampingi Jackson sejak masa diagnosis hingga pemulihan. Callan menyebut pemulihan Jackson dalam rentang waktu tersebut — yang berujung pada penampilannya di Piala Dunia Sepak Bola Transplantasi — sebagai sesuatu yang luar biasa.
Aturan Bermain yang Jauh Berbeda
Sepak bola di Piala Dunia Transplantasi tidak sepenuhnya sama dengan pertandingan di Piala Dunia FIFA. Turnamen ini mencerminkan betapa rapuhnya tubuh setiap pemain setelah melewati operasi yang mengubah hidup mereka. Pertandingan dimainkan dengan format tujuh lawan tujuh dan terbagi menjadi dua babak berdurasi 20 menit.
Kontak fisiknya pun jauh lebih ringan. Jackson mengakui bahwa benturan di lapangan tidak sekasar yang biasa ia alami sebelumnya. Sebelum operasi, ia terbiasa bermain sepak bola 11 lawan 11 di kasta kesembilan kompetisi Inggris, sehingga penyesuaian gaya bermain menjadi hal yang harus ia lakukan.
Sebagai penerima jantung donor, Jackson juga wajib mengatur beban latihannya lebih hati-hati dibanding rekan-rekannya. Banyak rekannya merupakan penerima transplantasi ginjal, jenis transplantasi paling umum di Inggris. Karena itu, perannya di tim cenderung diisi dalam rentetan sekitar 10 menit, bukan bermain penuh sepanjang pertandingan.
Kasus serupa pernah dialami bek Bayern Munich, Alphonso Davies, yang didiagnosis miokarditis ringan pada 2022. Ia harus menepi hampir lima bulan dan menjalani pemantauan jantung khusus sebelum akhirnya kembali bermain. Perbandingan itu menunjukkan bahwa pemulihan setelah gangguan jantung memang menuntut kehati-hatian ekstra, terutama bagi atlet.
Dari Akademi Manchester United ke Timnas Transplantasi
Jackson bukan pemain sembarangan. Masa mudanya ia habiskan di akademi Manchester United, lalu melanjutkan ke Blackburn Rovers, Preston North End, dan Burnley. Ia akhirnya menghentikan upayanya menembus sepak bola profesional dan menghabiskan 13 tahun bersama klub-klub di piramida non-liga Inggris.
Jalur menuju timnas transplantasi Inggris justru terbuka berkat istrinya, Lucy. Selama masa pemulihan Jackson, Lucy mengetahui adanya kesempatan bergabung dengan tim England Transplant FC dari media sosial. Ia lalu menghubungi pihak tim dan menyebut bahwa suaminya pernah bermain untuk Manchester United saat masih sekolah.
Informasi itu langsung menarik perhatian manajer tim Inggris, Daley Cross. Menurut Cross, Lucy hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk suaminya dan mencari cara agar Jackson tetap termotivasi. Dari cara Jackson berada di lapangan — meski baru menjalani sebagian kecil perjalanan pemulihannya — Cross bisa melihat bahwa pemain itu memahami permainan dan akan menjadi aset berharga bagi tim.
Jackson resmi bergabung dengan skuad pada Januari 2026. Kehadirannya memberi warna baru bagi tim nasional transplantasi Inggris, dan tak lama kemudian ia membuktikan kualitasnya dengan ikut mengantar Inggris menjuarai turnamen di Frankfurt.
Pesan di Balik Tim yang Lahir dari Donor Organ
Bagi Cross, keberadaan tim ini punya makna yang jauh lebih besar daripada sekadar prestasi olahraga. Banyak pasien berada di titik terendah saat menerima diagnosis, menjalani pengobatan, bahkan setelah transplantasi. Kehadiran sebuah tim yang membantu dan menginspirasi mereka membuat para pesepakbola hebat tetap bisa berkarya.
Cross menegaskan bahwa timnya hanya ada karena adanya donor organ. Tanpa donor, ia tidak akan memiliki 16 pemain untuk dikelola, dan Inggris tidak akan baru saja memenangi sebuah Piala Dunia. Pesan itu menurutnya penting untuk terus disebarkan, terutama agar semakin banyak orang membicarakan soal donor organ.
Pesan serupa juga disampaikan Jackson. Ia menekankan bahwa setelah menjalani transplantasi, seorang pasien umumnya tidak lagi berpikir bisa bermain sepak bola — dan itulah yang dulu ia rasakan sendiri. Kini ia berharap kisahnya bisa menunjukkan kepada komunitas transplantasi dan publik luas bahwa kegagalan organ bukan akhir dari segalanya, dan masih ada kesempatan untuk melanjutkan hidup.
Menurunnya Donor Organ di Inggris
Di balik kisah Jackson, ada masalah yang semakin serius: jumlah pendonor organ di Inggris terus menyusut. Callan menyebut bahwa awalnya rata-rata waktu tunggu di daftar transplantasi urgent adalah tujuh hari, namun kini bisa mencapai 14 hari. Sekitar 10% pasien yang masuk daftar tersebut bahkan menjadi terlalu lemah dan harus dikeluarkan dari daftar.
Penyebabnya adalah berkurangnya jumlah pendonor organ. Sepanjang 2026 tercatat penurunan 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Saat ini ada 8.700 orang yang menunggu organ donor, angka yang menurut NHS Blood and Transplant merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Daftar tunggu super urgent sendiri menempati prioritas paling tinggi dari tiga tingkatan pasien. Biasanya hanya ada sekitar empat atau lima orang yang berada di daftar itu pada satu waktu di Inggris. Karena itu, setiap organ yang tersedia benar-benar menentukan hidup mati seseorang.
Menghadapi kondisi tersebut, NHS meluncurkan rencana respons darurat pada Pekan Donor Organ (Organ Donation Week) yang berlangsung 21-28 September. Kampanye ini menjadi momen penting untuk mendorong kesadaran publik akan pentingnya mendaftar sebagai pendonor.
Kisah Martyn Jackson menunjukkan bahwa transplantasi organ tidak selalu berarti akhir dari ambisi seseorang. Dari pasien kritis yang jantungnya ditopang pompa mekanis, ia berubah menjadi pencetak gol di final sebuah kejuaraan dunia dalam waktu kurang dari dua tahun. Capaian itu tidak lepas dari peran pendonor, dukungan keluarga, dan tim yang percaya padanya sejak awal.
Satu hal yang belum terlaksana sampai kini adalah pertemuan Jackson dengan keluarga pendonornya. Ia mengaku tengah mempertimbangkan untuk menghubungi mereka sekitar dua tahun setelah operasinya. Sebuah pertemuan sederhana itu mungkin akan menjadi penutup paling bermakna dari perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah lapangan kecil di Ramsbottom.